Get In Touch
541 Melville Ave, Palo Alto, CA 94301,
ask@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.705.5448
Work Inquiries
work@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.306.6725
Back

Lupakan Simone de Beauvoir, Mari Belajar dari Ceu Euis

Di depan mataku, perempuan-perempuan berkisah tanpa perlu toa. Mereka menangis tanpa butuh pisau analisis. Mereka tak butuh panggung, karena seluruh dunia sudah jadi sandiwara tempat mereka kerap diminta main peran: ibu teladan, istri sabar, kekasih yang kuat menunggu, dan jika diperlukan… manusia setengah malaikat yang tahu caranya menyetrika luka jadi taplak meja.
Mari mulai dari Jubaedah, yang cintanya direbut duka cita. Suaminya meninggal di tengah kisah sepasang kekasih yang sedang mekar-mekarnya, meninggalkan rumah kontrakan dan satu anak yang masih menyusu pada sepasang areola-nya.
Orang menyebutnya “janda kuat”, seakan duka bisa diasumsikan sebagai lantai beton, yang sanggup digilas truk tronton. Ia bangun jam empat pagi untuk berjualan gorengan depan pasar, lalu kembali jam lima sore dengan sisa minyak di kerudung dan senyum yang dipaksa tetap manis. Ketika aku tanya apakah ia lelah, Jubaedah cuma tertawa, “Lelah itu nama tengah saya, Teh.” Lalu ia memotong wortel dan kol buat besok pagi.
Lalu ada Ceu Euis, yang kisah hidupnya dikhianati rasa percaya yang terlalu naif. Ia dulu percaya cinta adalah tiket VIP menuju rumah tangga sakinah mawaddah dan rahmah, bukan surat dari Pak RT menuju Puskesmas terdekat dengan label “korban KDRT.”
Ia pernah bercita-cita jadi dosen. Kini ia menjadi influencer parenting dadakan, karena trauma dan status janda lebih cepat viral dibandingkan jurnal ilmiah. Ironisnya, netizen menyemangatinya dengan emoji love, sambil tetap menyalahkan kerudungnya yang tak menutup dada.
Dalam dunia yang konon sudah “setara”, post-feminisme lalu hadir menggiurkan tapi tidak bisa ditebus oleh semua perempuan apalagi mereka yang dilabeli korban. Teori ini bilang: perempuan bebas memilih, bahkan untuk memilih lipstik sambil bicara soal patriarki. Tapi di depan mataku, kebebasan memilih seringkali hanya ilusi—karena memilih butuh kuasa, dan kuasa butuh uang, dan uang… ah, kamu tahu sendiri siapa yang pegang m-banking.
Mereka bilang sekarang zamannya “feminin yang berdaya”, tapi mengapa masih banyak yang harus meminjam keberdayaan dari pinjol untuk bayar sekolah anak? Kapitalisme menyulap emansipasi jadi estetika: perempuan boleh jadi bos, asal tetap cantik dan tak cerewet. Perempuan boleh berpendapat, asal bukan soal gaji suami yang susah didistribusikan.
Post-feminisme, katanya, adalah fase ketika perempuan tak lagi terjebak dalam narasi korban. Tapi di depan mataku, korban tetap korban, walau sudah bisa bikin konten TikTok tentang healing dan journaling. Mereka bilang “you go, girl!” tapi lupa mengantar sampai puskesmas terdekat, ketika salah seorang korban dipukuli lelaki.
Perempuan-perempuan ini bukan tokoh utama dalam novel atau film, tapi kisah mereka adalah epos. Mereka menyusun narasi bukan dengan pena, tapi dengan panci, popok, dan pinjaman mikro. Mereka tak menyebut diri “feminis”, tapi hidup mereka membuktikan bahwa bertahan pun adalah bentuk perlawanan.
Dan jika kamu bertanya siapa yang paling radikal di antara perempuan-perempuan ini, maka aku akan menunjuk mereka semua—karena hanya radikalisme yang bisa menjelaskan bagaimana luka bisa diikat dengan doa, dan cinta yang patah bisa disimpan di laci dapur sambil tetap menyajikan nasi hangat untuk sang anak. Kalau kamu bicara generasi perempuan cerdas dan terbebaskan, mari mendekat pada fakta paling kasat.
Dari Jubaedah dan Ceu Euis aku belajar, bahwa misogini tak hanya kebencian berbalut kelamin seorang lelaki. Tapi yang paling fatal, adalah dari asumsi merendahkan perempuan-perempuan teredukasi yang menganggap perempuan domestik tidak lebih punya makna, bahwa menjadi yang lemah dengan label korban adalah sebuah cela.
Mari sejenak mempelajari lagi, apa hakikat misoginis internal. Bahwa yang berbahaya tak melulu ancaman patriarki dan soal kesetaraan, yang paling membahayakan adalah ketika seorang perempuan teredukasi mencipta jurang yang terlampau lebar untuk kaum yang sudah semestinya mereka tolong.
Dari Ceu Euis aku belajar menggeliat dan merancang strategi pertahanan, bahwa tak semua literasi berasal dari sebuah buku atau ruang dialektika. Bahwa kehidupan, adalah sebenar-benarnya ruang belajar yang paling hakiki. Nuhun, Ceu.

Foggy FF
Foggy FF
Novelis dan esais tinggal di Bandung. Pendiri sekaligus Direktur Program "Melihat Lebih Jernih". Giat berkampanya mengenai isu kesehatan mental dan kesetaraan gender. Bisa dihubungi melalui Instagram @halamanhalimun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *