Zaman budak leutik dulu, cara kami menghitung kapan lebaran datang itu, dari semerbaknya bau terasi. Kalau udara pagi ke sore sudah dibuat mabuk oleh aroma terasi udang, berarti sebentar lagi lebaran datang. Kenapa begitu?
Kamu tahu rangginang, kan ya? Iya, itu dia. Siapa yang pernah tertipu kaleng Khong Guan, yang isinya rangginang dan mengumpat, harusnya kamu menyesal. Karena buat saya, rangginang memang jauh lebih enak dan orisinil.
Rangginang adalah camilan khas Jawa Barat, sisa nasi ketan yang nyaris terbuang, ia kemudian dibentuk, dijemur, dan digoreng. Rangginang kemudian menjadi simbol kebersamaan karena butiran ketan yang menyatu — dan konon katanya jadi simbol kemakmuran, karena beras ketan itu bukan pangan sembarangan. Ia bahkan tercatat dalam Serat Centhini, menandai usianya yang tidak muda dan posisinya yang cukup terhormat dalam sejarah kuliner Nusantara.
Kini, rangginang cukup populer dalam berbagai varian rasa: udang, lorjuk, terasi, hingga rasa-rasa modern, yang bisa jadi ada yang kepikiran untuk membuat rangginang rasa matcha atau bolognaise. Namanya juga strategi pemasaran.
Saya tumbuh di kawasan rural Kota Bandung, daerah Caringin dekat pasar induk yang bau runtah itu. Wilayah yang secara administratif masih bisa dibilang kota, tetapi secara batiniah masih rada-rada kampung.
Di rumah saya, lebaran tidak datang lewat debat-debat epistemologis tentang hilal atau sarupaning-nya. Ia datang lewat sesuatu yang jauh lebih eksistensial, yaitu bau terasi yang melayang-layang dari dapur kami dekat goa, ketan yang ditanak berulang-ulang, dan halaman rumah kami yang banyak pohonnya. Lalu si lahan terbuka luas itu, tiap ramadan datang berubah fungsi jadi ruang jemur rangginang.
Semakin dewasa, saya menganggap eksistensi rangginang membersamai filosofi kehidupan kami bertumbuh sebagai masyarakat yang gagap pada produk-produk modernisme. Salah satunya lewat ejawantah filosofi kehidupan — Lebensphilosophie.
Kenapa begitu?
Karena kami yakin, kalau hidup itu berangkat dari makna yang tidak bisa dipahami semata-mata lewat rumus dan sistem mekanistik. Maka dari itulah, rangginang hadir sebagai manifestasi dapur, yang merekatkan kegagapan — menghadapi kehidupan yang makin rumit. Ia tidak lahir dari strategi pemasaran kuliner modern, tapi betul-betul pengalaman hidup yang kami jalani berulang-ulang menjelang 1 Syawal setiap tahunnya.
Rangginang ini membersamai lebaran-lebaran kami, nyaris setiap tahun. Sengaja dibikin, diuleni, diberi aroma terasi biar wangi, juga dijemur agar ‘nyakrek’ dan renyah. Ia menjadi simbol kehidupan bersama manusia gagap seperti kami, yang akhirnya mau tak mau harus menerima modernitas — meski sikap kampungannya masih tersisa. Rangginang tumbuh dari ritme keseharian kehidupan keluarga urang caringin, dari musim, dari sabar menunggu panon poe untuk menjemur.
Ibu dan bapak saya membuat rangginang tiap tahun di bulan Ramadan, duduk di jojodog dapur rumah.Mereka bukan semata-mata hendak melestarikan budaya, apalagi sampai ada simbol filosofis segala. Mereka membuat adonan, dengan penuh kesadaran bahwa rangginang adalah simbol kebersamaan kami untuk merayakan sesuatu, ya lebaran. Mereka melakukannya karena memang begitulah hidup berjalan.
Di sinilah filsafat kehidupan bekerja. Saya dan barudak kampung Caringin, tidak perlu menunggu pengumuman hilal di tv; cukup mencium hawa-hawa terasi. Bau yang membawa sensasi kebahagiaan, karena sebentar lagi kami akan pamer baju anyar buat sholat ied.
Kembali ke Lebensphilosophie, satu pandangan yang menolak hidup sebagai mesin yang bergerak lurus dan efisien. Ia memihak pada proses panjang, kadang boros waktu, dan tidak selalu produktif. Menjemur rangginang kadang dianggap tindakan yang sepenuhnya tidak efisien menurut logika modern. Dia bergantung pada cuaca, memakan waktu, dan rawan gagal. Namun justru di situ nilai hidupnya. Kesabaran, penerimaan, dan kebersamaan tidak bisa begitu aja diserahkan pada mesin produksi.
Dalam konteks Lebaran yang kini sering dihubung-hubungkan dengan slogan spiritual dan budaya konsumerisme, rangginang ada sebagai sebuah satire. Ia berasal dari bekas, dari prinsip tidak membuang sisa, dari gagasan daur ulang. Di meja tamu, rangginang tersaji pada sebuah acara kemenangan melawan hawa nafsu sebulan penuh. Rangginang yang renyah, nyakrek, dan selalu habis meski ada saja yang mengomel “ih bosen”. Tapi ia menghadirkan percakapan yang hangat dan kontekstual, orang jadi menunda cepat-cepat pulang, dan membikin tamu duduk sedikit lebih lama.
Filsafat kehidupan sedang bekerja: bukan cuma pada dialektika diskusi, melainkan pada obrolan para wargi sambil “ngopi rangginang” yang toplesnya dibuka-tutup sepanjang momen hari lebaran setelah solat ied.
Hidup tidak selalu perlu dimengerti secara koheren. Kadang ia cukup dimaknai lewat alur-alur ritual tradisional yang sarat akan makna. Lewat menjemur, menggoreng, mewadahi, lalu memakannya bersama — dan dari situ, si filosofi muncul dengan sendirinya.
Pada akhirnya, rangginang menyimpan sesuatu yang sederhana, dari ketan yang lengket mejadi simbol bahwa hidup memang dibangun dari keterikatan, terasi meski baunya tajam tapi tetap dirindukan — tidak selalu hadir dalam wewangian. Yang paling sering diungkapkan, adalah tamu yang kecele mengira bahwa camilan di kaleng adalah biskuit Khong Guan, padahal rangginang yang enak itu.
Semua berulang setiap tahun, sudah tidak lagi pakai efek kejut. Kehidupan tidak selalu menuntut kejadian luar biasa, melainkan keberulangan yang kita rindukan, khususnya pada orang-orang yang telah tiada saat lebaran datang. Momen yang dinanti karena tadinya mereka memberi rasa aman dan nyaman. Lebaran jadi refleksi sedih dan rindu mendalam, khususnya pada orang tua, pada orang-orang yang telah tiada. Tapi kita semua berkumpul, sesederhana ngopi rangginang, sambil mengumpat, “Jadol! Sugan teh biskuit Khong Guan”.
Nah, sebentar lagi bulan Ramadan, kapan ya kita bikin rangginang lagi?