Puluhan tahun lalu, di depan rumah saya masih mengalir sungai besar dengan air keruh, warnanya seperti teh pekat tanpa gula. Jika hujan turun deras, sungai itu berubah menjadi arus bandang yang melesat menuju laut, menyeret apa saja yang hanyut di permukaannya. Saat air mulai naik, kami tahu apa yang harus dilakukan — menggulung kasur, menyelamatkan barang-barang penting, lalu memanjat ke atap rumah. Biasanya air meluap setinggi pinggang orang dewasa, membawa serta ranting-ranting, sampah, dan kadang seekor biawak yang kebingungan.
Di pinggir sungai, berdiri berjejer wc helikopter — sebutan kami untuk jamban kayu yang menjorok ke sungai, siap mengantar siapa saja ke antariksa tanpa celana jika papan pijakannya lapuk atau licin. Entah siapa yang pertama kali menyebutnya begitu, tapi istilah itu bertahan lama, menjadi lelucon khas anak-anak kampung kami.