
Negara tak memberikan fasilitas excellence pada rakyatnya, cuma karena mereka merasa puas dengan pemenuhan kebutuhan dasar, yang kadang bahkan hak dasar itu pun tak terpenuhi secara merata. Dalam segala keterbatasan hak-hak dasar itulah, kita terbiasa memelihara apologi: beri secukupnya, kasih seadanya. Untuk hal yang paling filosofis sekalipun.
Saya jadi ingat tentang timbangan sayuran di pasar, prinsip timbang menimbang adalah prinsip tentang keadilan dan kejujuran. Apa yang kita beli, itu yang kita dapatkan. Lalu, bagaimana dengan hidup sebagai makhluk sosial? Apakah cara kita bermasyarakat, akan menggunakan prinsip trading model begitu? Memberi kontribusi sesuai yang kita dapat dari orang lain. Beri secukpnya, kasih seadanya.
Perjalanan menjadi manusia yang utuh, otentik, dan tidak terfragmentasi oleh tuntutan luar, sering saya sebut sebagai jalan pintas jadi human totality atau perjalanan menjadi eksisten paripurna. Sulit? Tentunya, karena tak pernah ada yang gampang buat menyerahkan segala sesuatu dengan total. Pun ketika, hak-hak yang kita dapatkan amat sangat seadanya. Dalam segala keterbatasan inilah, geliat menjadi manusia total jadi sebuah privilese buat daya juang kita.
Saya bukan penggemar beratnya filsuf-filsuf eksistensialisme seperti Sartre atau Kierkegaard, yang menganggap totalitas manusia tidak ditentukan oleh takdir atau kodrat dia sejak jadi manusia (existence precedes essence). Tapi, satu hal yang saya sepakat sama doski, kalau menjadi total itu ya kudu diusahakan.
Menjadi manusia total, adalah ketika ia berani memilih sesuatu secara sadar dan bertanggung jawab penuh atas pilihan tersebut. Kalau kita hidup cuma buat memenuhi ekspektasi orang lain atau terjebak dalam rutinitas mekanis, ini berarti kita sedang terjebak dalam apa yang Sartre bilang sebagai bad faith (keberadaan palsu). Totalitas tercapai ketika ada keselarasan dan consent; atas pikiran, pilihan, dan tindakan nyata.
Totalitas kita justru diuji saat berhadapan dengan orang lain. Kemanusiaan kita jadi utuh saat kita merespons penderitaan dan kebutuhan sesama dengan rasa tanggung jawab. Negara adalah bad examples ketika memberi standar minimum hanya untuk sebagian orang, rapidly, politically. Memang sangat menyebalkan. Perlakuan bare minimum menghilangkan makna manusia dari subjek utuh yang berdaulat jadi sebatas objek administrasi, komponen dalam statistik kemiskinan, atau sekadar suara elektoral menjelang suksesi. Kita itu cuma indikator sekunder.
Kalau negara aja gagal menyediakan perikehidupan yang manusiawi, maka satu-satunya jalan menjadi manusia total adalah meretas segala hak yang kita punya, dan berpikir lagi soal kewajiban yang harus kita beri. Keutuhan kita sebagai manusia lahir saat grassroot mengambil alih peran yang diabaikan oleh struktur besar. Fokus pada diri sendiri di ruang privat, ruang publik biar kebagian jadi resonansinya saja
Menjadi manusia total, pada akhirnya memang jadi kerja-kerja etis yang kita rebut untuk diri sendiri dan lingkar terkecil kita. Ia mewujud secara konkret ketika kita berdiri tegak buat keluarga, ortu dan anak kita. Menolak narasi putus asa sistemik. Di tongkrongan, di meja makan, kita membangun episentrum daya juang yang paripurna hasil dari daya juang dan pemikiran kritis tanpa fasilitas. Kita saling menciptakan ruang-ruang alternatif, saling berbagi beban di tengah carut yang makin marut, dan merajut solidaritas yang tak terbeli oleh birokrasi.
Pram pernah bilang: “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.” Ketika struktur raksasa bernama negara itu sibuk mengkooptasi pikiran waras dan energi, kita perlu membumikan keadilan di ruang-ruang yang bisa kita kendalikan.
Menjadi manusia total di tengah negara yang memberi seadanya adalah sebentuk perlawanan. Memastikan kemanusiaan tetap menyala di lingkar terdalam kita. Dan jika pada akhirnya kebebalan sistem di atas sana belum rontok juga, kita membuktikan satu hal yang mutlak bahwa energi ini amat sangat mudah kita perbarui lagi.