Get In Touch
541 Melville Ave, Palo Alto, CA 94301,
ask@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.705.5448
Work Inquiries
work@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.306.6725
Back

Tersesat di Beranda Sendiri: Saat Berita Menjadi ‘Homeless’ dan Algoritma Mengatur Jempol Kita

Pernahkah Anda merasa lelah bahkan sebelum hari benar-benar dimulai? Baru saja membuka mata, jempol kita secara otomatis sudah menari di atas layar ponsel, melakukan scrolling tanpa henti pada arus informasi yang tak pernah tidur. Di satu saat kita melihat video kucing yang lucu, sedetik kemudian beralih ke infografis tentang krisis konstitusi, hanya untuk kembali terdistraksi oleh iklan sepatu yang tadi malam sempat kita cari di mesin pencari. Pengalaman audiens hari ini bukan lagi sekadar mengonsumsi informasi, melainkan terjebak dalam sebuah labirin digital yang sangat personal namun sekaligus sangat terfragmentasi.

Dunia sedang menyaksikan metamorfosis yang radikal dalam cara informasi diproduksi dan dikonsumsi. Pergeseran ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi merambah ke akar psikologis kita sebagai warga. Jika kita menilik sejarah panjang peradaban, medium informasi selalu menjadi cermin sekaligus pembentuk struktur kekuasaan. Namun di Indonesia, dinamika ini terasa lebih menyesakkan karena ia berkelindan dengan sisa-sisa mimpi demokrasi pasca-1998 yang kini justru memfasilitasi konsentrasi kekuasaan media di tangan segelintir elit melalui kendali infrastruktur digital.

Kekuasaan yang membuat kita merasa kehilangan arah ini dijelaskan Ross Tapsell dalam bukunya, “Kuasa Media di Indonesia: Kaum Oligarki, Warga, dan Revolusi Digital”, melalui konsep “multi-oligarchy”. Para pemilik modal besar tidak hanya menguasai stasiun televisi, tetapi juga membangun “ekosistem digital” yang mengintegrasikan berita dengan layanan perbankan, gim, hingga pengiriman makanan. Strategi ini memungkinkan mereka untuk mengekstraksi data secara masif dan menciptakan ketergantungan yang menyeluruh dalam kehidupan sehari-hari. Di titik inilah arsitektur informasi kita mulai berubah; informasi tidak lagi dicari berdasarkan kebutuhan publik, melainkan disodorkan berdasarkan target ekstraksi data. Media bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan instrumen kekuasaan ekonomi yang mengatur bagaimana arus informasi sampai ke jempol kita.

Kondisi ini sangat kontras jika kita menengok sedikit ke belakang, ke masa di mana kita masih memiliki harapan pada ruang yang lebih mandiri. Sebelum platform-platform besar mendominasi secara total, kita sempat melewati fase blog yang signifikan di mana warga memiliki “rumah” untuk suaranya. Kehadiran Kompasiana, yang oleh Pepih Nugraha (2012) digambarkan sebagai “etalase warga biasa,” memberikan gambaran tentang bagaimana warga bisa mengelola narasi mereka sendiri dengan alamat yang jelas dan tetap. Namun, seiring waktu, pusat perhatian kita perlahan berpindah. Keinginan untuk membangun “rumah” mandiri tersebut mulai ditinggalkan karena audiens tergiur oleh kecepatan dan viralitas yang dijanjikan oleh platform pihak ketiga. Kita perlahan-lahan berhenti membangun rumah dan memilih menjadi “penyewa” di tanah milik raksasa teknologi.

Perpindahan inilah yang memicu lahirnya fenomena homeless media atau media tanpa rumah. Istilah ini merujuk pada entitas informasi yang beroperasi sepenuhnya di atas platform pihak ketiga tanpa memiliki situs web mandiri. Media-media seperti Folkative atau USS Feed memanfaatkan kegesitan operasional dengan mengandalkan kurasi konten buatan pengguna yang dikemas secara bite-sized. Dan bagi Generasi Z, media inilah yang dianggap lebih autentik dibandingkan media arus utama yang kaku. Mereka mampu mendemokratisasi akses informasi dan mengangkat isu marjinal, seperti yang terlihat pada gerakan “Peringatan Darurat” tahun 2024 yang memobilisasi massa melalui viralitas konten visual.

Namun, di balik kegesitan itu, ada harga mahal yang harus dibayar: hilangnya kendali. Karena tidak memiliki “rumah” sendiri, media-media ini sepenuhnya tunduk pada kehendak algoritma platform yang sering kali tidak transparan. Agar tetap muncul di beranda pengguna, mereka dipaksa memproduksi konten yang hanya mengejar reaksi emosional sesaat. Hal ini menciptakan siklus di mana kecepatan lebih dihargai daripada akurasi. Tanpa proses verifikasi yang ketat, media tanpa rumah ini rentan menjadi tempat subur bagi misinformasi. Kerentanan ini makin nyata ketika kekuasaan mencoba masuk, seperti saat pemerintah melalui Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI mencoba merangkul mereka sebagai mitra komunikasi publik. Jika media-media yang menjadi tumpuan jutaan orang ini dikooptasi, maka publik akan semakin kehilangan arah dalam membedakan antara informasi publik dan propaganda.

Fragmentasi informasi ini kemudian dipercepat oleh hadirnya Kecerdasan Buatan (AI) yang kini menjadi praktik rutin di banyak media. Namun, alih-alih membantu kita keluar dari labirin, AI justru sering kali menjadi faktor yang mempercepat kebingungan. Penggunaannya untuk meringkas berita telah menyebabkan penurunan trafik ke situs berita asli secara drastis, sehingga audiens hanya mendapatkan permukaan dari sebuah isu tanpa memahami kedalaman dan konteksnya. AI menciptakan banjir konten yang seragam namun dangkal, yang pada akhirnya membuat kita merasa kewalahan oleh volume informasi yang masif namun “kekeringan makna.”

Dampak akhir dari semua ini adalah kelelahan mental yang luar biasa bagi kita sebagai audiens. Kita berada di era di mana volume informasi yang kontradiktif memicu perilaku news avoidance atau penghindaran berita. Sebagian dari kita memilih menarik diri sepenuhnya dari diskusi publik karena merasa tak lagi bisa membedakan mana fakta, opini, atau narasi yang sengaja diorganisir oleh algoritma. Perasaan “tersesat” ini bukan sekadar ketidakmampuan mencari informasi, melainkan dampak psikologis dari struktur media yang tidak lagi memprioritaskan kebenaran, melainkan keterikatan (engagement) demi keuntungan platform.

Lanskap media hari ini memang telah mengkristal menjadi berbagai bentuk, mulai dari media arus utama yang mencoba bertahan sebagai benteng kredibilitas, hingga jurnalisme independen berbasis newsletter yang mencoba menghindari jeratan algoritma demi kedalaman narasi. Kesemua bentuk ini saling bertautan dalam ekosistem yang rapuh. Seorang warga mungkin mendapatkan berita pertama dari homeless media, melakukan pencarian di media sosial, lalu mencari validasi akhir di media arus utama. Namun, navigasi ini menjadi semakin sulit ketika setiap langkah kita diatur oleh algoritma yang hanya menyodorkan apa yang ingin kita lihat, bukan apa yang perlu kita ketahui.

Masa depan media bukan hanya tentang teknologi apa yang akan lahir berikutnya, melainkan tentang bagaimana kita tetap memegang kendali atas kebenaran. Kita tidak bisa lagi hanya menjadi penonton pasif yang menerima apa pun yang disuguhkan algoritma di beranda. Kita harus menjadi navigator yang cerdas, yang memahami motif di balik sebuah narasi dan menyadari bahwa di balik setiap konten yang kita swipe, ada struktur kekuasaan dan teknologi yang bekerja dengan sangat rumit. Di tengah mesin informasi yang semakin canggih, memelihara keraguan yang sehat dan literasi yang kritis adalah satu-satunya cara agar kita tidak terus tersesat di “rumah” kita sendiri.

V M
V M
Pendiri IDWRITERS. Saat ini bekerja penuh waktu sebagai konsultan komunikasi dan paruh waktu sebagai penyunting lepas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *