Back

Filosofi Sumpit: Menelisik Etika dan Makna Ritual di Asia Timur

Sebagai seorang konvertor dan penerjemah naskah, sejak masih kuliah di jurusan bahasa Mandarin, saya terbiasa berpindah-pindah dari satu dunia bahasa ke dunia bahasa lainnya. Kadang saya menerjemahkan dokumen sejarah, kadang naskah bisnis, kadang pula manuskrip budaya yang sarat istilah asing. Sebagian besar klien saya menggunakan jasa penerjemah atau konvertor bahasa, sehingga pekerjaan saya tidak pernah jauh dari bahasa Inggris, Mandarin, maupun Jepang.

Namun, ada satu pelajaran budaya yang justru tidak saya peroleh dari buku, kamus, atau ruang kelas. Pelajaran itu saya dapatkan dari sebuah makan siang sederhana di restoran Jepang bersama seorang klien.

Hari itu, saya baru saja menyelesaikan pembahasan sebuah proyek penerjemahan dokumen. Klien saya, seorang pria Jepang yang tadinya adalah peserta dari salah satu walking tour dan sudah beberapa kali tertarik pada program yang ditawarkan tour operator saya, mengusulkan untuk melanjutkan diskusi sambil makan siang. “Sekalian makan. Ada restoran Jepang yang cukup autentik di dekat sini,” katanya. Saya pun tentu tidak menolak.

Begitu tiba di restoran, suasananya langsung terasa berbeda. Pintu kayu geser, lampu berwarna hangat, dan aroma kaldu dashi yang samar-samar tercium menciptakan kesan tenang. Tidak ada musik keras ataupun suara percakapan yang berlebihan. Bahkan, para pelayan berbicara dengan nada yang lembut. Kami duduk di dekat jendela. Sambil menunggu pesanan datang, pembicaraan mengalir dari urusan pekerjaan ke budaya, sejarah, hingga pengalaman hidup di negara masing-masing.

Sebagai penerjemah, saya memang selalu tertarik pada hal-hal semacam itu. Sebab, sering kali memahami sebuah bahasa berarti memahami cara berpikir masyarakat yang menggunakannya.

Tidak lama kemudian, makanan mulai berdatangan. Di meja kami tersaji semangkuk nasi putih Jepang yang pulen dan sedikit lengket, sup miso hangat dengan aroma fermentasi kedelai yang khas, beberapa potong sashimi tuna dan salmon yang dipotong tebal, tempura udang berbalut tepung renyah berwarna keemasan, aneka acar Jepang (tsukemono), serta secangkir teh hijau panas.

Sashimi yang disajikan benar-benar segar. Daging ikannya lembut dengan rasa manis alami yang muncul perlahan saat dikunyah. Tempuranya renyah di luar, tetapi tetap lembut di dalam. Sementara itu, sup miso yang disajikan dengan temperatur hangat yang pas memberikan rasa gurih yang menenangkan, seolah menjadi penyeimbang seluruh hidangan.

Ketika saya mengambil sumpit dan bersiap menyantap makanan, klien saya tiba-tiba tersenyum. “Kalau di Jepang, menggunakan sumpit juga ada tata kramanya.”

Saya mengangguk. Sebagai orang Indonesia, saya cukup terbiasa menggunakan sumpit saat makan mi atau hidangan Tionghoa. Saya pikir selama makanan berhasil masuk ke mulut tanpa jatuh, berarti tidak ada masalah. Ternyata, saya salah.

Filosofi dan Tata Krama di Meja Makan

Klien saya menunjuk mangkuk nasi. “Jangan pernah melakukan ini.” Ia lalu memperagakan sumpit yang ditancapkan tegak lurus di tengah nasi. “Itu disebut tatebashi.”

Menurutnya, dalam tradisi Buddha Jepang, semangkuk nasi dengan sumpit yang berdiri tegak digunakan sebagai persembahan bagi orang yang telah meninggal. Karena itulah masyarakat Jepang sangat menghindari kebiasaan tersebut. Saya terheran. Selama ini saya menganggap tindakan itu hanya kebiasaan biasa. Rupanya, bagi orang Jepang, pemandangan tersebut langsung mengingatkan pada kematian dan upacara pemakaman.

“Jadi, kalau melakukan itu saat makan bersama orang Jepang?” tanyaku. Ia tertawa kecil. “Mereka mungkin tidak akan marah, tetapi pasti merasa tidak nyaman.”

Beberapa menit kemudian, saya menghadapi persoalan yang lebih besar. Di hadapan saya terdapat begitu banyak pilihan makanan yang menarik. Tempura terlihat menggoda. Sashimi disajikan dengan plating yang menggiurkan. Acar Jepang ternyata cukup menarik dan wanginya segar. Akibatnya, sumpit saya bergerak ke sana kemari di atas meja tanpa akhirnya benar-benar mengambil apa pun.

Klien saya memperhatikan, lalu berkata, “Itu namanya mayoibashi.” Secara harfiah, istilah ini berarti sumpit yang kebingungan. Dalam etiket Jepang, menggerakkan sumpit ke berbagai arah sambil terus memilih makanan dianggap kurang sopan. Perilaku tersebut menunjukkan keraguan dan dapat membuat orang lain merasa menunggu.

Saya tertawa kecil karena merasa tertangkap basah. “Kalau sudah memilih, silakan ambil saja,” katanya. Sederhana, tetapi masuk akal.

Tak lama kemudian, saya ingin mengambil semangkuk acar yang berada agak jauh. Refleks, saya langsung mencoba menarik mangkuk itu menggunakan ujung sumpit. Belum sempat mangkuk acar teraih sumpit, klien saya kembali menghentikan saya.

“Itu yosebashi,” jelasnya. Yaitu kebiasaan menggunakan sumpit untuk menarik mangkuk atau piring. Menurut tata krama Jepang, sumpit hanya digunakan untuk mengambil makanan. Jika ingin memindahkan mangkuk atau piring, gunakan tangan. Selain dianggap kurang sopan, kebiasaan tersebut juga dinilai tidak elegan. Saya mulai merasa bahwa sepasang sumpit ternyata memiliki lebih banyak aturan daripada yang pernah saya bayangkan.

Pelajaran paling menarik datang menjelang akhir makan siang. Saat itu, klien saya mengambil sepotong tempura dan menjelaskan bahwa dalam budaya Jepang, makanan tidak boleh diberikan langsung dari sumpit seseorang ke sumpit orang lain. Kebiasaan itu disebut hashiwatashi.

Alasannya ternyata sangat berkaitan dengan ritual kematian. Setelah proses kremasi, anggota keluarga almarhum menggunakan sumpit untuk memindahkan potongan tulang dari satu orang ke orang lain sebelum dimasukkan ke dalam guci abu. Karena itulah mengoper makanan langsung dari sumpit ke sumpit dianggap sangat tidak pantas. Jika ingin berbagi makanan, seseorang harus meletakkannya terlebih dahulu di piring kecil penerima atau menggunakan sumpit saji khusus yang disebut toribashi.

Saat mendengar penjelasan itu, saya akhirnya memahami mengapa berbagai aturan tersebut begitu dijaga hingga sekarang.

Dua Budaya, Satu Sumpit

Karena sebagian besar pekerjaan saya berkaitan dengan dokumen dan naskah berbahasa Mandarin, saya kemudian bertanya apakah aturan itu juga berlaku di Tiongkok. Jawabannya ternyata menarik. Beberapa etika memang mirip. Menancapkan sumpit tegak di nasi juga dianggap tidak pantas di Tiongkok. Bedanya, masyarakat Tiongkok lebih sering mengaitkannya dengan dupa persembahan yang dibakar untuk leluhur.

Namun, ada juga perbedaan yang menonjol. Dalam banyak keluarga Tionghoa, terutama generasi yang lebih tua, meletakkan makanan ke mangkuk tamu merupakan bentuk perhatian dan keramahan. Tuan rumah bahkan sering mengambilkan makanan terbaik untuk tamunya. Sebaliknya, masyarakat Jepang lebih berhati-hati dalam hal tersebut karena adanya larangan hashiwatashi.

Perbedaan lain terasa pada suasana makan. Meja makan Tionghoa biasanya lebih ramai, hangat, dan penuh interaksi. Makan bersama ala Tiongkok biasanya dilakukan dengan mengelilingi meja bulat beserta piringan putar, yang sering menjadi simbol perbedaan budaya makan antara Tiongkok dan Jepang. Dalam jamuan Tionghoa, semua hidangan umumnya ditempatkan di tengah meja untuk dibagikan bersama. Oleh karenanya, sumpit yang digunakan pun cenderung lebih panjang untuk memudahkan meraih makanan yang tersaji.

Sementara itu, dalam tradisi Jepang, setiap orang biasanya memperoleh porsi atau wadahnya tersendiri. Suasana makan pun cenderung lebih tenang dan individual, meskipun tetap dinikmati bersama-sama. Bahkan, cara mengambil makanan dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Saat itulah saya menyadari bahwa sumpit bukan sekadar alat makan; ia adalah bagian dari bahasa budaya.

Pengalaman tersebut juga mengingatkan saya pada banyak proyek penerjemahan naskah sejarah berbahasa Mandarin yang pernah saya kerjakan. Dalam berbagai dokumen budaya Tiongkok, meja makan sering digambarkan sebagai ruang membangun hubungan sosial—tempat keluarga, sahabat, dan mitra bisnis mempererat kepercayaan. Di Jepang, saya menemukan fungsi yang sama, meskipun diekspresikan melalui tata krama yang lebih terstruktur. Perbedaan-perbedaan kecil semacam inilah yang membuat pekerjaan penerjemahan menjadi menarik, karena setiap kata sering kali membawa jejak sejarah dan nilai budaya yang tidak selalu tampak di permukaan.

Ketika makan siang berakhir, saya merasa memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar santapan lezat. Saya belajar bahwa bahasa dan budaya tidak pernah benar-benar bisa dipisahkan. Sebagai penerjemah, saya sering menghabiskan waktu berjam-jam mencari padanan kata yang tepat. Namun, pengalaman hari itu mengajarkan bahwa tantangan terbesar bukanlah menerjemahkan kata-kata, melainkan menerjemahkan makna di balik kebiasaan sehari-hari.

Sejak hari itu, setiap kali saya memegang sumpit, saya tidak lagi melihatnya hanya sebagai alat makan. Saya melihatnya sebagai pengingat bahwa memahami suatu bangsa, kadang kala, dapat dimulai dari atas meja makan.

Roro Ariyanti
Roro Ariyanti
Roro Ariyanti adalah pemandu wisata, pemilik tour operator, penulis, dan pendiri Penerbit Ngemong Mripat. Berbekal pengalamannya, ia menaruh minat besar pada warisan budaya, sejarah lokal, dan gastronomi Nusantara. Lewat perjalanan wisata dan karya tulisnya, Roro aktif menggali serta mendokumentasikan cerita peradaban yang sering luput dari perhatian. Ia meyakini pengetahuan tersebut akan jauh lebih bermakna bila dibagikan dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *