
Apa yang terlintas di benakmu saat “hari Minggu” tiba dan kita sedang ada di tengah obrolan bersama teman?
Bagi sebagian orang, mungkin itu berarti tidur lebih lama dari biasanya, tidak ada alarm yang membuatmu harus segera beranjak dari kasur yang nyaman. Mungkin bagi orang lain, hari Minggu adalah saatnya berangkat ke gereja bersama keluarga, atau bisa jadi sekadar hari untuk tidak melakukan apa-apa sama sekali.
Setiap orang punya Minggu versinya sendiri-sendiri, yang dibentuk oleh kebiasaan—bahkan tanpa mereka sadari. Hari Minggu hanya terjadi, berulang, seperti hari-hari lainnya.
Bagiku, hari Minggu selalu mengingatkanku pada aroma masakan ibu yang khas dan sanggup memenuhi lanskap olfaktori-ku.
Sayur asam dengan kuah menyegarkan, sambal terasi yang ditumbuk kasar, tempe dan tahu goreng berbalut tepung, serta ikan asin—yang meski tidak pernah kumakan—menjadi bagian dari udara yang kuhirup hampir setiap Minggu pagi. Semuanya menyelusup dari dapur, lalu menetap di ruang keluarga tempat aku dan beberapa sepupu duduk bersila menghadap televisi. Kami menunggu kartun dimulai sambil menanti kapan sarapan akan disiapkan, karena hidung kami sudah menciumnya lebih dulu.
Biasanya, pada hari-hari lain, kami makan bersama di meja makan seperti keluarga pada umumnya. Namun, Minggu selalu menjadi pengecualian. Karena rumah dipenuhi oleh sepupu yang menginap sejak Sabtu malam, meja makan tidak pernah cukup menampung kami semua. Maka, karpet digelar di depan televisi, piring-piring diletakkan berjajar di atasnya, dan sarapan berpindah tempat tanpa pernah kehilangan maknanya.
Kami makan di sana sambil menonton, sambil tertawa untuk hal-hal kecil yang sebenarnya tidak lucu-lucu amat, sambil berkomentar soal adegan yang baru saja lewat di layar televisi. Tidak ada yang pernah menyebut apa yang tengah kami lakukan kala itu sebagai ritual. Namun, setiap Minggu datang, entah bagaimana kami selalu kembali melakukannya lagi dan lagi—dengan cara yang sama, di tempat yang sama, bersama orang-orang yang sama.
Meski begitu, adab tidak pernah hilang hanya karena meja makan berubah bentuk menjadi hamparan karpet berwarna hijau kusam. Itu yang baru kusadari belakangan ini, bahwa yang dipindahkan ke karpet bukan sekadar piring dan lauk, melainkan juga seluruh konsensus di meja makan sesungguhnya.
Kami tetap tidak boleh mengecap. Tetap tidak boleh berteriak-teriak dengan mulut penuh makanan, meski tawa boleh pecah sesekali karena adegan kartun yang lucu. Keributan kecil yang kami buat—suara sendok beradu piring, komentar spontan, tawa yang datang begitu saja—tidak pernah benar-benar bebas dari aturan tak tertulis bernama unggah-ungguh dan teguran ora elok (tidak pantas). Tanpa hal-hal itu, mungkin yang tersisa hanyalah kekacauan, bukan kehangatan yang mengisi memori kami sampai sekarang.
Aku tidak pernah punya kata untuk menjelaskan apa yang terjadi setiap Minggu pagi itu, sampai suatu hari aku membaca sebuah artikel tentang mindful eating—makan perlahan, mengenali tekstur, menyadari rasa lapar sebelum ia benar-benar berbicara, dan tidak melakukan hal lain di tengah makan. Saat membacanya, hal pertama yang muncul di kepalaku bukan kekaguman yang meledak-ledak, melainkan rasa familier yang sekaligus terasa aneh. Ada perasaan bahwa ini adalah sesuatu yang sudah lama kukenal, hanya saja dengan nama dan bahasa yang berbeda.
Mindful eating dan adab makan tradisi sebenarnya berbicara dalam bahasa yang berbeda untuk kebutuhan yang sama, yakni hadir sepenuhnya saat makan.
Jika mindful eating bicara bahasa individual—mengenali sinyal tubuh, menyadari rasa lapar, memberi ruang pada diri sendiri untuk benar-benar merasakan apa yang masuk ke mulut—maka adab makan yang kubawa dari rumah bicara bahasa relasional. Bahasa tentang siapa yang duduk semeja, bagaimana kita menghargai apa yang tersaji di atas piring, dan bagaimana menjaga momen itu tetap utuh untuk semua orang, bukan hanya untuk diri sendiri. Yang satu mengarah ke dalam, dan yang lainnya mengarah ke luar. Namun, bisa dikatakan keduanya berangkat dari akar yang sama: keinginan untuk tidak melewatkan momen makan begitu saja.
Oleh karena itu, bagiku, yang berubah dari teguran ora elok ke praktik mindful eating bukanlah intinya, melainkan “kemasannya”. Dulu, kami dijaga lewat larangan yang tak pernah benar-benar dijelaskan alasannya—ora elok, titik. Sekarang, kebutuhan yang sama dijelaskan lewat artikel, riset, dan berbagai tip yang mudah ditemukan serta dipelajari. Bentuknya berubah, tetapi apa yang dijaga tetap sama: kehadiran saat makan.
Ini bukan soal salah satu kemasan lebih baik, lebih unggul, atau lebih autentik dari yang lain. Nilai lama tidak kalah relevan hanya karena ia datang tanpa validasi ilmiah, dan nilai baru tidak otomatis dangkal hanya karena ia lahir dari tren. Keduanya sama validnya dan merupakan upaya manusia untuk terus mencari cara agar tidak kehilangan kehadiran diri di meja makan.
Tentu, kehadiran itu tidak selalu harus lahir dari meja yang dipenuhi banyak orang. Ada masanya ketika kita harus makan sendirian, dan itu pun tidak lantas membuat momen makan kehilangan maknanya. Di sini aku seperti diingatkan kembali bahwa dalam makan, yang perlu dijaga bukanlah jumlah orang yang duduk di sekeliling meja, melainkan kesediaan diri kita untuk sekali lagi benar-benar hadir, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain ketika kebersamaan itu ada.
Hari-hari Minggu seperti itu kini sudah berlalu. Karpet hijau kusam di ruang tengah tinggal bagian dari ingatan, begitu pula aroma sayur asam yang dulu menjadi penanda akhir pekan. Namun, ada sesuatu yang tidak ikut pergi bersama karpet dan aroma itu.
Ia berpindah tangan dan berganti rupa seiring berjalannya waktu. Dari meja makan keluarga, ke karpet yang jadi pengecualian setiap Minggu, dan sekarang ke meja kecil yang kubagi dengan pasangan.
Kini tak ada lagi ora elok yang terdengar di meja makan. Yang tersisa hanya ucapan “selamat makan” dan “terima kasih atas makanannya” sebagai jembatan menuju momen merayakan kebersamaan. Tanpa disepakati, kebiasaan itu telah menjadi bagian dari keseharian kami.
Meja makanku mungkin sudah berubah bentuk, tetapi apa yang dijaga di baliknya tak pernah benar-benar terganti. Ia tetap menjadi alasan bagiku untuk berhenti sejenak dan benar-benar hadir bagi satu sama lain.