
Pernahkah Anda menerawang saat sedang menikmati segelas susu, membayangkan kapan minuman segar ini pertama kali hadir melengkapi pagi kita? Berangkat dari rasa penasaran tersebut, saya menelusuri berbagai literatur sejarah. Besar kemungkinan, sapi perah didatangkan ke Nusantara oleh VOC pada abad ke-17, yang mulanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan di lingkungan internal mereka sendiri.
Pemeliharaan sapi perah perlahan meluas, dikelola oleh orang-orang Belanda di sekitar kawasan, hingga menyebar jauh dari peternakan utama milik VOC. Heer Medici, seorang petualang Belanda, mencatat pengalamannya mencicipi susu murni di Cianjur pada tahun 1786, tepatnya saat ia menempuh perjalanan dari Batavia menuju Bandung.
Jejak peternakan sapi perah yang lebih terstruktur di Indonesia (yang saat itu mulai bernama Hindia Belanda) bermula ketika Kontrolir Van Andel di Kewedanaan Tengger (1891–1893) mengimpor sapi Friesian Holstein dari Belanda atas usul dokter hewan bernama Bosma. Selain itu, didatangkan pula jenis Milking Shorthorn, Ayrshire, dan Jersey dari Australia. Sapi-sapi impor ini kemudian dikawinkan dengan sapi lokal—salah satunya menghasilkan sapi Grati di daerah Pasuruan, yang kelak menjadi cikal bakal sapi perah di tanah Jawa.
Pada mulanya, impor dari Australia menjadi pilihan utama karena kedekatan jarak angkut dan harga yang jauh lebih murah. Namun, wabah penyakit paru-paru sapi (Pleuropneumonia) dan Piroplasmosis di Australia memaksa pemerintah menghentikan jalur tersebut. Untuk selanjutnya, pasokan sapi perah hanya didatangkan dari negeri Belanda.
Pesatnya pertumbuhan peternakan swasta ini memicu perhatian pemerintah kolonial. Hal ini dibuktikan dengan berdirinya Jawatan Kehewanan pada tahun 1905, yang salah satu tugasnya adalah mengelola urusan peternakan sapi.
Dalam rangka pengadaan bibit sapi jantan murni, pemerintah Hindia Belanda pada 1914 mengadakan kontrak kerja dengan Louis Hirschland dan Van Zijl, pemilik peternakan General de Wet Houven di Cisarua. Mereka diminta menyediakan pejantan untuk memperbaiki mutu sapi rakyat. Pemerintah berkomitmen membeli semua pejantan yang telah berusia satu setengah tahun dan memenuhi standar kualitas. Sepanjang tahun 1915 hingga 1923, peternakan ini berhasil menyalurkan 40 ekor pejantan murni kepada pemerintah.
Sapi-sapi tersebut kemudian disalurkan ke peternakan rakyat. Sayangnya, di lapangan banyak terjadi penyalahgunaan. Alih-alih dimanfaatkan sebagai pejantan untuk meningkatkan kualitas, sapi dari pemerintah malah dipekerjakan sebagai penarik pedati atau dijual kembali ke peternakan besar. Di sisi lain, para peternak Belanda merasa merekalah yang lebih berhak mendapat bantuan bibit. Sentimen diskriminatif pun muncul; orang Belanda menganggap kaum pribumi tidak butuh minum susu. Apalagi, masyarakat lokal pada masa itu memandang susu sebagai “darah putih” yang sangat tabu untuk dikonsumsi.
Sejalan dengan sentimen tersebut, pemerintah kolonial menerapkan syarat kebersihan dan kesehatan yang terlampau ketat bagi pengusaha peternakan pribumi—sebuah tindakan yang disengaja untuk mempersulit ruang gerak mereka. Akan tetapi, ketangguhan peternak lokal patut diacungi jempol. Beberapa pengusaha pribumi berhasil membuktikan diri di kawasan Pasar Minggu, Grati, Boyolali, dan Pasuruan. Tahun 1925 menandai geliat awal peternakan sapi perah milik orang pribumi di Pulau Jawa, yang umumnya dimulai dengan modal sekitar 10 ekor sapi. Puncaknya, pada tahun 1940, tercatat ada sekitar 140 peternakan milik pribumi dengan total populasi 180.000 ekor sapi yang mampu berproduksi sekitar 8.000 liter susu per hari.
Seiring berjalannya waktu, kawasan Bandung dipilih oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai sentra peternakan sapi perah di wilayah Priangan. Keputusan ini didasari oleh kemiripan cuaca, iklim, dan topografi Bandung dengan kawasan Friesland di negeri Belanda. Udara sejuk di Lembang dan Cisarua di utara Bandung, serta Pangalengan di selatan Bandung, menjadikannya lokasi yang ideal.
Di Lembang, bahkan sempat berdiri peternakan sapi perah terbesar se-Asia Tenggara yang dikembangkan oleh Ursone bersaudara. Peternakan mereka dikenal paling besar dan paling bersih pada masanya, menghasilkan susu dengan kualitas yang luar biasa baik.
Sayangnya, masa keemasan itu runtuh pada era pendudukan Jepang. Peternakan-peternakan di kawasan tersebut terpaksa tutup dan sangat terbengkalai. Barulah pascakemerdekaan, sisa-sisa peternakan ini mulai dibenahi kembali; ada yang berhasil dipertahankan keberadaannya, namun tak sedikit pula yang kini hanya tinggal nama.
Memahami perjalanan panjang dari sejarah susu sapi segar hingga dapat kita konsumsi dengan mudahnya sekarang memberikan perspektif baru. Hari ini, susu dikemas praktis dalam karton dengan ragam rasa manis dan buah yang bisa kita temukan di minimarket ataupun warung terdekat. Mengingat sejarahnya, kita semestinya dapat merasakan nikmat yang lebih mendalam dari setiap tegukan susu yang mengalir ke tenggorokan—sebuah tegukan yang diiringi dengan wujud rasa syukur.
Catatan Penulis: Narasi perjalanan panjang dari segelas susu ini dirangkum dari berbagai sumber, di antaranya penuturan sejarawan Sudarsono Katam, serta informasi dari para pegawai KPSBU Lembang dan Dinas Peternakan Jawa Barat di Lembang.