Koloni Soerjasoemirat adalah sebuah kawasan koloni pertanian yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada Oktober 1899. Namanya mungkin terdengar sangat asing di telinga, tetapi ini adalah salah satu cikal bakal lahirnya koloni pertanian di kawasan Lembang, yang menahbiskan Lembang sebagai kawasan penghasil sayuran bermutu hingga kini.
Beberapa tahun sebelum 1899, pemerintah kolonial Belanda di Semarang membangun sebuah balai latihan kerja yang bergerak di beberapa bidang. Pertama, koloni para pembuat sepatu yang berkembang di Batavia, dengan mendatangkan para perajin sepatu yang telah dilatih di Semarang. Selanjutnya, para pebisnis bunga potong yang dipusatkan di Semarang, yang dibekali keahlian membudidayakan serta merangkai bunga, sehingga menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.

Koloni berikutnya adalah koloni pertanian yang digagas di lahan terbengkalai di utara Lembang, tepatnya di Desa Tjibogo. Tanah yang diolah sebagian besar adalah lahan bekas budi daya kopi pada masa cultuurstelsel (sistem tanam paksa) yang berlangsung antara 1830 hingga 1870. Lahan terbengkalai itu kemudian digarap oleh para ahli pertanian yang telah dilatih di Semarang.
Mereka adalah kaum bumiputra yang telah siap dengan keahlian bertani sayuran, yang sebagian besar didatangkan dari Semarang dan Cirebon. Pada awalnya, didatangkan sekitar empat keluarga yang masing-masing terdiri atas belasan orang. Mereka diberikan tanah garapan seluas 20 bahu pada awalnya, lalu berkembang hingga 40 bahu untuk setiap keluarga.
Hal pertama yang dilakukan oleh para anggota koloni adalah membuka jalan, mendirikan rumah, dan menggemburkan tanah-tanah yang akan diolah. Mereka diberikan pinjaman tanah tersebut secara cuma-cuma oleh pemerintah kolonial, dengan syarat tanaman yang dibudidayakan adalah sayuran-sayuran sesuai permintaan pemerintah.
Akhirnya, koloni sayuran tersebut berkembang dan terkenal dengan nama Koloni Soerjasoemirat. Bukit-bukit kecil di utara Lembang berubah wajah menjadi hamparan sayuran hijau yang bibitnya didatangkan dari luar negeri, seperti kol, kentang, dan kubis. Namun, terkadang para anggota koloni pun menanam sayuran khas Nusantara, seperti lembayung, daun ginseng jawa, leunca, lompong, dan daun beluntas.
Selain koloni ini, pemerintah kolonial sebetulnya mendatangkan beberapa ahli peternakan dan pertanian dari Afrika Selatan. Mereka adalah belasan orang Boer yang diboyong ke utara Lembang. Para Boer ini sangat piawai mengembangkan peternakan dan pertanian. Merekalah yang pertama kali mengembangkan sayuran-sayuran luar negeri yang kini familier di meja makan kita.
Seperti kisah di dalam semangkuk sup: di dalamnya terdapat kentang, kol, kubis, dan wortel yang sebetulnya bukan sayuran asli Nusantara, melainkan dikembangkan oleh para Boer tersebut hingga dapat terus kita nikmati sekarang di rumah-rumah.
Dalam perkembangannya, Koloni Soerjasoemirat ini terus bertumbuh hingga pascakemerdekaan, dan kawasan Tjibogo pun terus dikenal sebagai sentra sayuran. Kemudian, didirikanlah sebuah Balai Penelitian Tanaman Sayuran di sudut bekas Koloni Soerjasoemirat tersebut.
Persentuhan pertama saya dengan Lembang pun terjadi di balai ini. Sejak 1981, almarhumah ibu saya adalah salah satu peneliti sayuran di sana. Sejak kecil, saya sering diajak Ibu menyambangi kantornya; tempat saya bisa melihat hamparan hijau sayuran sejauh mata memandang. Bahkan, sekarang domisili saya pun berada di kawasan eks Koloni Soerjasoemirat ini.
Namun, ironi terjadi kini. Kawasan Lembang pada umumnya telah bersalin rupa, memoles dirinya terlalu “menor” dengan tumbuhnya wanawisata kekinian yang memangkas sebagian besar kawasan hijau Lembang. Bukan hanya itu, kondisi ini pun ikut mengubah sudut pandang sebagian besar warga Lembang.
Warga yang dahulu menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian dan peternakan sekarang semakin tergeser. Mereka menjual ternak dan kebun sayur warisan leluhur. Para warga mulai membangun penginapan dan fasilitas penunjang wanawisata kekinian. Tentu saja, hal ini menghilangkan kondisi khas Lembang secara perlahan.
Hamparan sayuran kini semakin terdesak oleh deretan vila dan homestay yang dianggap warga lebih kekinian. Peternakan warga pun kini dapat dihitung dengan jari. Lambat laun, keberadaan kebun sayuran dan peternakan yang dahulu menjadi ciri khas Lembang semakin hilang. Jalan-jalan yang dahulu hijau oleh rerumputan, kini bersalin rupa menjadi jalanan beton dan aspal yang menuju ke arah vila.
Lembang darurat jati diri, dan kini semakin parah. Dampak lingkungan tentu saja tak terelakkan. Pada musim kemarau, kawasan Tjibogo mengalami kekeringan karena sebagian besar vila dan homestay membuat sumur artesis yang menguras sumur-sumur biasa milik warga sekitar. Bila musim hujan tiba, jangan kaget apabila kawasan utara Lembang muncul dalam berita banjir dan longsor. Itu semua akibat pembangunan wanawisata kekinian, vila, dan homestay yang membabi buta dan tak terkendali, menggerus hutan serta kebun-kebun sayuran yang dahulu menjadi identitasnya.
Dalam renungan, saya berpikir: mungkinkah kita mengembalikan kesadaran warga untuk menyembuhkan Lembang? Kembali menjadi dirinya yang dahulu, yang mampu memasok sayuran-sayuran berkualitas dan kembali menjadi sentra peternakan. Menghidupkan kembali apa yang lama tertidur, meraih kembali kejayaan masa lalu.
Akankah tangan-tangan kapitalis ini berhenti mencengkeram Lembang? Akankah warga kembali sadar bahwa ketahanan pangan yang diciptakan di kebun-kebun mereka jauh lebih menjanjikan masa depan? Semoga harapan saya—dan kita semua—dapat terkabul. Aamiin.