Setelah berada di Jakarta, bertambahnya usia memang jadi sering tak terasa karena rutinitas.. Setiap kali tanggal lahir datang, saya jadi rindu pulang ke rumah masa kecil di Makassar. Ingatan saya merindu pada sepiring—bukan, tapi setampah—hidangan hangat yang selalu Ibu siapkan: Sokko Palopo.
Apakah itu?
Bagi Anda yang belum tahu, Sokko Palopo pasti terdengar asing, namun bagi lidah orang Bugis, nama ini langsung mendatangkan bayangan rasa yang kuat. Kuliner tradisional ini sangat bersahaja, cuma terdiri dari dua komponen utama. Sokko adalah nasi yang terbuat dari kukusan beras ketan nan pulen. Sementara palopo’ adalah saus cocolannya, kuah kental berbahan dasar gula merah dan santan. Ketika dua komponen itu dikawinkan, Anda akan mendapat perpaduan ketan yang kenyal, berkuah legitnya saus karamel yang gurih.
Ada satu hal yang membuat hidangan ini selalu membekas kuat dalam ingatan. Saya bukanlah orang yang terlalu suka menyantap makanan yang terlampau manis—agak anomali mengingat sebagian besar makanan tradisional Bugis terkenal dengan cita rasanya yang manis dan legit. Dalam kebiasaan makan sehari-hari, lidah saya malah terbiasa dengan rasa pedas. Jika mencicipi kue atau kudapan modern yang kadar gulanya tinggi, saya biasanya akan menyerah pada suapan kedua atau ketiga.
Namun, aturan itu tak berlaku, kalau berhadapan dengan Sokko Palopo. Biarpun saus cocolannya dibuat dari gula merah pekat yang luar biasa manis, hidangan ini selalu berhasil membuat saya ketagihan. Rasa manisnya entah bagaimana terasa pas, tidak pernah membuat enek, dan selalu meninggalkan keinginan untuk menambah satu suapan lagi. Dari sekian banyak kuliner khas Bugis yang kaya akan rempah dan daging, hidangan manis inilah yang paling saya cintai sejak kecil. Bahkan akhirnya sampai menjadi sebuah ritual ulang tahun.

Kok bisa? Dulu, Mamie (begitu saya memanggil Ibu) sering kali memasak hidangan ini bertepatan dengan hari ulang tahun saya. Mungkin karena beliau tahu ini makanan kesukaan saya, atau mungkin hanya semata kebetulan. Namun, karena momennya selalu pas, lambat laun kebiasaan itu menjadi sebuah ritual wajib keluarga. Setiap kali tanggal kelahiran saya sudah dekat, saya sendiri yang akan bertanya, “Besok bikin ja ki’ lagi sokko palopo, mi?” Mamie biasanya hanya akan mengangguk sambil tersenyum, memastikan bahwa esok subuh aroma gula merah yang mendidih sudah akan menyapa saya saat terbangun. Ritual itu terus terjaga selama bertahun-tahun, menjadi penanda kalau saya telah tumbuh satu tahun lebih dewasa, nyaris setiap tahun.
Membaca buku-buku sejarah kuliner atau artikel budaya, orang-orang menyematkan filosofi megah pada sepiring Sokko Palopo. Ada yang menulis bahwa kelengketan ketan melambangkan eratnya ikatan silaturahmi yang tidak boleh putus, sementara rasa manis sausnya melambangkan keharmonisan serta doa agar kehidupan selalu dilimpahi rezeki yang manis. Hidangan ini pun sering digambarkan sebagai simbol rasa syukur yang wajib hadir dalam acara pernikahan atau perayaan adat yang besar. Tidak ada yang salah.
Namun kini saya mempunyai pemahaman sendiri, karena sepertinya semua filosofi besar itu terasa abstrak. Di atas meja makan kami, keindahan Sokko Palopo tidak se-abstrak itu. Momen itu terasa istimewa, karena kesederhanaannya. Sokko Palopo bukan produk narasi budaya yang megah biar terasa berharga. Cita rasanya menjadi murni karena ia adalah wujud dari perhatian seorang ibu. Di balik kebulan uap ketan yang baru matang, yang saya rasakan adalah kehangatan rumah dan kenyamanan yang utuh. Filosofi sejati dari makanan ini, bagi saya, adalah bagaimana cinta seorang ibu bisa mewujud menjadi rasa manis yang menenangkan di atas piring anaknya.
Kini, setelah saya tinggal di Jakarta, kenyataan menghadirkan tantangan yang berbeda. Jakarta adalah kota kosmopolitan yang menampung hampir seluruh rasa dari penjuru nusantara, namun kota ini tampaknya enggan memberi ruang bagi Sokko Palopo. Di sudut-sudut jalan ibu kota, menemukan warung yang menjual Coto, Burasa, Sop Konro, atau Es Pisang Ijo adalah perkara mudah. Makanan-makanan itu telah berhasil melintasi batas daerah dan akrab dengan lidah masyarakat urban. Namun, Sokko Palopo seperti memilih untuk tetap tinggal di kampung halaman, menjadi sebuah rahasia lokal yang hanya bisa dinikmati jika Anda benar-benar mencarinya di tempat asalnya.
Merenungkan hal ini membuat saya menyadari sebuah hal yang mungkin juga dirasakan oleh banyak orang di luar sana. Rasa kehilangan seperti ini rasanya tidak hanya milik saya sendiri. Di balik dinding-dinding kamar kos yang rapat atau di rumah-rumah kontrakan yang padat di kota ini, pasti ada perantau lain yang sedang menatap meja makan mereka dengan kerinduan yang serupa: merindukan masakan-masakan rumah lainnya yang sama asingnya bagi Jakarta.
Para perantau, tampaknya memiliki Sokko Palopo-nya masing-masing—sebuah hidangan spesifik yang tidak akan pernah bisa ditemukan di aplikasi ojek online, karena rasanya terkunci rapat pada satu dapur dan satu pasang tangan di masa lalu. Mungkin sepiring sayur lodeh dengan potongan tempe yang khas, atau sekerat ikan asin dengan sambal ulek yang takaran pedasnya hanya bisa ditiru oleh tangan ibu mereka masing-masing.
Esensi dari sebuah makanan tradisional sesungguhnya tidak pernah terletak pada seberapa rumit resepnya atau seberapa megah cerita sejarah di belakangnya. Makanan, dalam wujudnya yang paling jujur, adalah sebuah jangkar memori. Ia bekerja sebagai medium yang mengikat kita pada orang-orang dan waktu yang telah berlalu.
Novelis Prancis, Marcel Proust pernah mengenalkan konsep involuntary memory—tentang ingatan sensoris, ingatan tak sukarela yang dipicu oleh indra. Ia menunjukkan bahwa ketika waktu merenggut segala hal dari hidup kita, rasa dan aroma adalah dua hal yang paling gigih bertahan. Mereka lebih rapuh, tetapi entah bagaimana, lebih abadi. Seperti remahan kue yang dicelup teh dalam cerita Proust, sepiring makanan rumahan punya kekuatan magis untuk meruntuhkan jarak ratusan kilometer dan puluhan tahun, lalu membangun kembali struktur masa lalu dengan utuh di dalam kepala.
Melalui ingatan akan sepiring Sokko Palopo yang legit, saya menyadari bahwa ritual yang dibangun Mamie dulu adalah caranya memastikan bahwa ke mana pun saya melangkah, saya akan selalu memiliki rumah untuk pulang. Ritual itu masih ada. Ia menetap di dalam kepala pengingat akan perjalanan hidup ini, saya pernah dicintai dengan begitu tulus melalui sepiring ketan dan kuah gula merah yang dimasak sebelum matahari terbit.