
Zaman sekolah SD dulu, berangkat ke Cibadak setiap awal semesteran identik dengan beli alat tulis murah dalam jumlah grosiran. Cibadak memang masyhur dengan toko-toko yang menjual perlengkapan alat tulis dan perabotan rumah tangga dalam jumlah masif. Ibu atau nenek saya, setiap kali mengadakan acara kenduri, solusi wadah makanannya, pasti beli di Cibadak.
Belakangan, saya lumayan sering merapat ke Cibadak lagi. Bukan untuk beli alat tulis, melainkan karena kawan-kawan di Jakarta malah jadi sering nanya: “Eh, lontong oncom di Cibadak enak, gak?”
Saya malah belum pernah mencoba makan di sana.
Kalau orang Sunda makan oncom mah sudah biasa. Tapi kalau ramai-ramai anak skena kuliner viral mengalihkan trennya ke Cibadak sambil berpeluh makan sambal oncom, ini agak lain.
Tak banyak yang tahu kalau oncom adalah produk ampas fermentasi yang nyaris dibuang. Ia adalah penganan hasil olahan bahan baku, laiknya bungkil kacang atau ampas tahu yang diproses secara sederhana. Namun, sama seperti tempe, oncom punya penggemar militannya sendiri.
Ini pertanyaan yang sedari kapan ingin saya layangkan sama orang Sunda: kenapa kalian doyan makan oncom?
Hari Sabtu pagi, kawasan Jalan Cibadak agak padat, terutama ketika memasuki area sekitaran Otista dan jejeran ruko-ruko. Yang jadi anomali, adalah ramainya pengunjung mengerubungi sebuah warung di trotoar. Mereka sedang menikmati leupeut (lontong dibungkus daun pisang) dibanjur sambal oncom, dan diberi topping kerupuk mi kuning. Apa yang istimewa dari itu semua?
Saya bertanya pada Ibu saya yang orang Sunda asli. Kata beliau, makan oncom adalah kembali ke kesederhanaan.
L’existence précède l’essence, kalau kata Sartre mah. Saya mencoba menelaah makna ampas bungkil kacang murni ini, dan kita akan merasakan wujud “ketiadaan”. Semacam residu, sisa-sisa dari proses utama pengolahan makanan. Esensi mereka adalah ampas; minyaknya diperas, saripatinya diambil. Secara kodrati, ampas-ampas ini sebetulnya cuma sedang membusuk, lalu menghilang dari kehidupan.
Letak magisnya adalah, masyarakat lokal sanggup menyulap ampas yang kehilangan esensinya ini menjadi eksistensi baru. Wujud materi lain. Dari yang cuma ampas (maaf, seperti tahi), kita justru dihidangkan sebuah magna eksisten.
Fermentasi melalui kapang adalah trik kepiawaian olah pangan, sebuah proses mengolah kemubaziran. Alih-alih dibiarkan jadi sampah, ampas dikelola sedemikian rupa agar bisa dinikmati kembali dalam bentuk lain. Sebuah filosofi daur hidup. Kapang-kapang yang bekerja menghancurkan sisa-sisa justru mengubahnya jadi materi nutrisi baru. Dari sesuatu yang tadinya mau dibuang, lahirlah oncom—sebuah identitas kultural baru di peta kuliner masyarakat Sunda.
Lalu saya balik lagi menekuri orang-orang yang pada asyik mengunyah leupeut siram oncom di tengah lalu lalangnya mobil box angkut di Cibadak itu. Apa yang istimewa dari sarapan bersahaja tersebut? Jawabannya justru terletak pada ketiadaan keistimewaan itu sendiri.
Mereka yang duduk di pinggir jalan itu tidak sedang bermewah-mewah. Tanpa sadar, mereka sedang mempraktikkan prinsip kesederhanaan dari sebuah ketiadaan. Kaum Stoik yakin kalau bahagia sejati tidak datang dari mewah yang dibikin-bikin, tapi dari kemampuan bersyukur pada sesuatu yang sederhana. Sebutir leupeut adalah fondasi dasar pemenuh kebutuhan, sementara sambal oncom adalah representasi ampas yang disublimasi jadi nikmat, pedas dan lezat.
Perpaduan gurih, lada, dan aroma kencur yang menyengat ini adalah tujuan kenikmatan buat para pemburu kuliner. Sajian ini seolah menyampingkan kompleksnya bahan pangan. Cukup dengan ampas fermentasi, sepotong nasi padat berbalut daun, dan rasa penasaran akibat antrean yang mengular.
Belum cukup menjawab, kenapa orang Sunda doyan oncom. Mungkin ini tak semata urusan indera pengecap, melainkan karena dalam setiap kekayaan kuliner terdapat rasa penerimaan kolektif: bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang mampu meracik kelezatan, dan menemukan makna utuh, dari sisa-sisa kehidupan yang nyaris dibuang jadi sampah.
Nah, selain makan leupeut, nyaris semua yang ke Bandung juga tahu kalau Jalan Otista itu salah satu titik rawannya macet, yang imbasnya pasti sampai ke Cibadak. Iseng saya berpikir, kenapa orang rela bersusah-susah demi makan ampas? Mungkin karena, kita tak harus mengeluarkan cuan banyak untuk menikmati sarapan enak—mana viral pula—demi bisa ikut menikmati apa yang sedang digandrungi orang-orang.
Saya jadi menghubungkannya dengan apa yang Jonah Berger bilang soal fenomena kuliner viral. Apakah lontong oncom Cibadak memenuhi kriteria enam prinsip psikologisnya Berger (Social currency, Triggers, Emotion, Public, Practical Value, Stories)? Tentu saja. Konsumen rupanya tidak cuma beli makanan, mereka beli cerita di baliknya. Cerita itu bisa berupa perjuangan pemiliknya, keunikan cara masaknya, atau murni mitos tradisi kearifan lokal masyarakat Sunda tentang teknik fermentasi.
Hal yang bikin saya lebih heran lagi adalah anak-anak muda yang kumpul di situ. Rombongan berbaju oversized, tote bag kanvas, dan sepatu sneakers bulky yang ikutan antre.
Dulu, kalau mau dibilang nyeni atau anak kalcer Bandung, jalurnya pasti seputar urusan musik dan tren fesyen. Ruang-ruang diskusi sastra atau pojokan kedai kopi adalah habitat alaminya. Duduk melingkar, ngopi hitam. Mungkin hal itu masih ada sampai sekarang. Tapi kini, kuliner kalcer ikut menyasar Cibadak, padahal Bandung saat ini lagi gerah-gerahnya.
Kemarin waktu makan, di sebelah meja plastik saya, segerombolan muda-mudi sibuk mengatur sudut kamera ponsel. Sambil kepedesan, mereka ambil momen se-estetik mungkin. Mungkin karena ikutan senang, menikmati sesuatu yang dianggap raw, merakyat, dan menyatu dengan kebanggaan lokal, meskipun realitas historisnya tempat ini sebetulnya adalah lokasi memborong dus hajatan grosiran, celana kutang, serta buku dan alat tulis murah.
Pemandangan itu kontras dengan apa yang terjadi tak jauh dari rombongan tersebut. Di sudut, ada bapak paruh baya dengan jaket kulit domba Garut sedang makan khusyuk. Kakinya diangkat satu ke kursi plastik merah. Piringnya tandas dibilas kerupuk kuning. Baginya, leupeut oncom ini murni bahan bakar sebelum narik angkutan lagi atau mengangkat kardus. Tidak ada urusan dengan gaya hidup, hidden gem, social currency, atau tetek bengek teori psikologi konsumen yang bikin pusing tadi.
Melihat dua pemandangan bersisian ini, saya jadi kepengin menulis soal ini.
Orang Sunda itu pada dasarnya memang punya genetik heuydeuh. Makanan residu yang tadinya nyaris tak berharga, difermentasi pakai kapang, dikasih kencur, dibungkus daun, lalu dijual murah di emperan. Dan ketika makanan akar rumput ini tiba-tiba dipuja-puji jadi ikon pop kuliner, keluarga penjual oncomnya tetap santai aja.
Tidak ada niatan mendadak punya food truck atau gaya-gayaan pakai celemek kulit ala barista slow bar. Mereka, ya tetap jualan tekun ngulek sambal oncom, sambil sesekali bercanda. Pesan tersirat dari keluarga penjual ini jelas: peduli amat pembeli meributkan soal kalcer atau estetika, yang penting dagangan cepat ludes dan bisa segera pulang. Syukur syukur, masih bisa dinikmati oleh mereka di sekitar yang sedang mendulang rezeki.