Dark Mode Light Mode

Menelusuri Jejak Ingatan Lewat Manisnya Jalebi: Sebuah Refleksi dari Film Lion

Sejak menyukai penampilan memukau Dev Patel dalam film Lion (2016), saya jadi penasaran dengan satu tradisi makanan lokal khas India, yaitu: jalebi. 

Setahu saya, jalebi mungkin cuma manisan kaki lima di India sana. Sebuah makanan berbentuk jalinan spiral mirip pretzel yang digoreng renyah dan direndam dalam sirup gula, yang kelihatannya tidak istimewa-istimewa amat. Namun, untuk yang udah pada nonton Lion dan semestanya, makanan sederhana ini bahkan sanggup bertransformasi menjadi pusaka untuk dua orang anak yang terpisah jarak dan waktu. Ia bukan cuma makanan pemanja lidah, tapi juga sebuah kunci pembuka pandora masa lalu seorang anak yang hilang.

Bagi Saroo kecil dan kakaknya yang sangat ia sayangi, Guddu, hidup adalah perjuangan melawan kemiskinan luar biasa ekstrem buat mereka. Dalam realitas yang keras itulah, jalebi punya peran mewujudkan kebahagiaan kecil dan sederhana. Dua adik kakak itu cuma bisa menatap jalebi di penggorengan pinggir jalan dengan penuh damba, menyadari kalau makanan manis itu berada di luar batas kemampuan finansial mereka.

Keinginan sederhana untuk mencicipi manisan itulah, yang akhirnya memotret indah kepolosan anak-anak kurang mampu di India. Jalebi menjadi representasi dari kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang didambakan di tengah impitan beban hidup yang kejam.

Kekuatan jalebi dalam cerita ini baru mencapai puncaknya bertahun-tahun kemudian, melintasi samudra hingga ke Australia. Saat Saroo dewasa melihat jalebi tersaji di rumah teman-temannya, wujud manisan itu bekerja sebagai trigger memori yang cukup tajam di korteks besarnya. Bentuk spiral dan eksistensi jalebi seketika meruntuhkan dinding amnesia yang selama ini menutupi trauma dan masa lalu Saroo.

Ingatan akan rasa rindu terhadap kakaknya serta janji masa kecil untuk bisa membeli jalebi suatu hari nanti kembali menyeruak di memorinya. Jalebi menjadi katalisator pencarian panjang Saroo. Obsesinya lantas terpantik, mendorong Saroo dewasa menghabiskan waktu bertahun-tahun menatap layar Google Earth untuk menyusuri lanskap India, semata-mata demi menemukan jalan pulang ke pelukan ibu kandungnya.

Di luar narasi personal Saroo, Lion berhasil mengangkat jalebi menjadi simbol kultural yang kuat, terutama bagi masyarakat diaspora India di seluruh dunia. Makanan tradisional terbukti mampu memegang memori kolektif tentang siapa kita sebenarnya dan dari mana kita berasal.

Bagi mereka yang tercerabut atau terpisah jauh dari tanah kelahirannya, sepotong jajanan masa lalu bisa menjadi jangkar yang menghubungkan mereka kembali dengan akar keluarga, identitas asal, dan kehangatan bernama “rumah”.

Film Lion ini membuktikan bahwa makanan bisa menyimpan kekuatan emosional nan magis. Jalebi dalam kisah ini secara brilian melambangkan memori masa kecil, rindu terpendam pada kampung halaman, serta ikatan cinta keluarga yang nyatanya tidak bisa dihapus oleh rentang waktu dan jarak. Sangat wajar jika setelah menontonnya, rasa penasaran akan jalebi ikut tertinggal di benak penonton. Dengan membayangkan bahwa di balik wujudnya yang lengket dan manis, tersimpan kisah abadi tentang harapan dan kerinduan.

Ternyata, “keajaiban” jalebi dalam memanggil ulang masa lalu Saroo ini bukan sekadar drama sinema. Realitasnya, fenomena di mana makanan kecil di masa lalu bisa memantik ingatan yang sangat kuat punya pijakan secara psikologi dan neurosains. Indra pengecap dan penciuman kita nyatanya memang terhubung langsung ke “pusat komando” emosi dan memori di otak.

Fenomena Proust dikenal sebagai konsep yang menjelaskan bagaimana pengalaman sensorik yang spesifik, seperti sentuhan rasa atau jejak aroma makanan di udara, sanggup memicu ingatan emosional masa lalu secara spontan dan jelas. Layaknya mesin waktu, satu gigitan saja bisa melempar kesadaran kita kembali ke masa puluhan tahun silam.

Secara biologis, anatomi otak kita memproses bau dan rasa melalui jalur cepat bebas hambatan. Sinyal dari aroma manis jalebi melesat langsung menembus hipokampus (area utama penyimpan memori) dan amigdala (pusat pengolah emosi). Hebatnya, proses ini terjadi tanpa melewati pusat penyaring logika di otak lebih dahulu. Inilah mengapa reaksi kerinduan Saroo datang begitu tiba-tiba dan nyaris nekat.

Makanan kecil sering kali menjadi ikatan kuat pada momen krusial di masa lalu, entah itu momen kehangatan, atau justru kemiskinan yang menyayat hati seperti yang dialami Saroo dan Guddu. Karena ikatan emosional ini, rasa makanan lantas berevolusi menjadi “kunci” yang secara kuat mampu membuka kembali arsip ingatan lama yang terkunci rapat di alam bawah sadar.

Jadi, ketika Saroo dewasa mematung menatap jalebi di rumah temannya, secara neurologis, otaknya memang sedang diretas oleh rentetan memori yang tertidur sekian tahun. Pada titik itu, jalebi tak cuma adonan jajanan bersirup gula, tapi juga jadi jembatan neuro-kultural yang menuntun langkah seorang anak kembali ke pelukan ibu kandungnya. Mungkin, ini adalah cara alam semesta merawat sisi paling manusiawi seorang manusia.

Sehebat apa pun kita denial, sejauh apa pun kita berlari melintasi samudra, dan sekeras apa pun logika yang kita pakai merasionalisasi kehidupan ini, pada akhirnya kita tetaplah rapuh. Semua gelar, kedewasaan, dan pertahanan emosional kita yang paling kuat sekalipun bisa seketika hancur lebur… hanya oleh sepotong adonan manis.

Lewat sebentuk jalebi, Lion membongkar sebuah realitas yang mindblowing: Masa lalu tidak hilang begitu saja. Ia maujud dalam aroma dan rasa untuk menyergap dan memaksa kita pulang ke memori paling ringkih dalam benak kita.

Valerie A. Burhanuddin

Valerie A. Burhanuddin adalah seorang pengajar, penulis, dan periset sosial. Saat ini berdomisili di Makassar, Sulawesi Selatan.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Menelusuri Jejak Sejarah Burayot: Kuliner Legendaris Khas Garut yang Tak Lekang oleh Waktu

Next Post

Merayakan Kesetaraan di Meja Makan: Refleksi atas Kesederhanaan Para Pemimpin Nordik