Pada Hari Raya Kurban yang jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026 lalu, hampir seluruh warga Indonesia, baik yang beragama Islam, Kristen, maupun Hindu dan Buddha, tumpah ruah mengikuti aktivitas penyembelihan hewan kurban. Tenda dan terpal senantiasa terpasang rapi di pelataran masjid-masjid di Indonesia. Pemandangan tersebut menjadi pertanda bahwa prosesi kurban akan segera dilaksanakan pascasalat Iduladha.
Salat biasanya selesai pukul 06.30 pagi, dan dilanjutkan dengan proses penyembelihan kurban pada pukul 08.00 pagi. Warga tumpah ruah di sekitar masjid tanpa perlu menunggu perintah untuk mempersiapkan keperluan penyembelihan. Sebelum mulai bekerja, mereka biasanya makan pagi bersama dengan hidangan sederhana layaknya sayur lodeh dan teh hangat. Sederhana, tetapi terasa mewah bagi warga.
Setiap daerah di Indonesia tentu memiliki adat dan tradisi yang berbeda sebelum memulai proses penyembelihan. Namun secara garis besar, prosesi yang dilakukan hampir sama. Selain adat dan tradisi, pihak yang melakukan proses penyembelihan pun bisa menjadi pembeda. Di Kota Surakarta yang merupakan kampung halaman saya, seluruh proses penyembelihan hingga pembagian daging kurban dilakukan oleh bapak-bapak dan para pemuda.
Sementara itu, ibu-ibu berada di dapur untuk menyiapkan makan siang dan tidak diperkenankan berada di lokasi penyembelihan. Keputusan bersama tersebut sudah berlangsung turun-temurun dan ditaati oleh semua warga tanpa terkecuali.

Pengorbanan Suci di Hari Suci
Ikatan simpul hewan kurban yang mulai dilepas satu per satu dari tiang bambu menjadi penanda awal dimulainya prosesi penyembelihan. Hewan yang mogok berjalan di tengah jalan menjadi pemandangan lumrah setiap tahunnya. Hewan lain yang akan disembelih lebih dahulu mulai direbahkan dengan mesin hidrolik agar tidak menyiksa.
Secara perlahan, hewan yang sudah dibaringkan di atas alat hidrolik dibawa menuju area penyembelihan. Alunan takbir dan doa yang dipanjatkan terus menggema mengiringi proses penyembelihan hewan kurban. Antusiasme warga untuk menyaksikan prosesi ini biasanya tidak terbendung.
Maklum saja, kurban hanya digelar setahun sekali. Sesaat setelah hewan kurban mati sempurna, para pemuda mulai memindahkannya untuk dikuliti dan dipotong-potong. Bagi yang tidak terbiasa menyaksikan prosesi penyembelihan, mereka bisa tiba-tiba merasa mual dan tidak enak badan meski tidak melihat langsung darah hewan kurban atau mencium bau amisnya.
Hal tersebut juga yang saya rasakan ketika mengabadikan seluruh prosesi penyembelihan hewan kurban. Keluar dari lokasi penyembelihan, tampak puluhan warga duduk di atas terpal yang sudah disiapkan untuk menunggu daging dipotong menjadi ukuran kecil hingga memenuhi satu badan jalan. Mesin potong tulang pun turut dikerahkan untuk memotong tulang berukuran besar.
Hewan kurban yang sehat itu kini telah disembelih untuk memenuhi kewajiban umat Islam berkurban di Hari Raya Iduladha, sebagai wujud keimanan dan ketaatan kepada Tuhan. Berkurban tidak selalu harus berupa materi, tetapi juga bisa berupa dukungan moral maupun tenaga. Begitu kira-kira nilai penting Hari Raya Kurban yang saya dapatkan ketika menyaksikan prosesi penyembelihan di Kota Surakarta.
Bapak-bapak, tanpa memandang status sosial ekonomi maupun jabatan, tumpah ruah bersama di jalan depan masjid. Gema takbir dan kehangatan warga sangat terasa. Sebagian warga berinisiatif menjaga lalu lintas demi kenyamanan warga yang sedang bekerja.
Merajut Harmoni dan Kekeluargaan
Memasuki sekitar pukul 12.00 siang, seluruh pekerjaan diminta untuk berhenti sejenak agar warga bisa makan siang dengan menu gulai, tongseng, dan tulangan atau tengkleng. Saya pun turut serta makan siang bersama. Senda gurau warga tampak meramaikan suasana siang kala itu. Berkurban menurut saya, selain untuk memenuhi kewajiban, juga menjadi sarana menjalin silaturahmi dan kekeluargaan antar-lapisan masyarakat.
Tidak ada jarak, dan semua tumpah ruah bersama di depan masjid. Warga biasanya bekerja tanpa diperintah dan tanpa mengharap imbalan daging kurban. Seluruh warga, baik yang terlibat langsung maupun tidak, mendapat bagian daging yang sama beratnya. Jika ada keluarga mereka yang berkurban, barulah mereka mendapat bagian lebih.
Sisanya diberikan kepada mereka yang lebih membutuhkan di luar desa. Tidak sedikit warga setempat yang mampu berkurban turut serta dalam prosesi penyembelihan. Bagi mereka, berkurban bukan hanya sekadar menyerahkan hewan sembelihan, melainkan juga ikut berkorban moral dan tenaga untuk kebersamaan.
Meski begitu, mereka masih memegang teguh petuah para leluhur desa untuk menjauhkan segregasi sosial di masyarakat dan membagi tanggung jawab dengan sama beratnya. Proses penyembelihan tetap dilakukan oleh ahlinya (jagal) dari awal hingga akhir. Hewan yang sebelumnya tampak sehat, kini telah menjadi potongan-potongan daging.
Kantong plastik mulai disiapkan sebagai wadah daging hewan kurban yang akan dibagikan ke warga. Daging untuk gulai dan tulang (balungan) untuk tongseng yang akan dimakan bersama diambil maksimal sebanyak seperempat kilogram, sesuai persetujuan bersama warga dan takmir masjid. Jumlah tersebut tampaknya sudah lebih dari cukup.
Ibu-ibulah yang mengurus bagian logistik, termasuk meracik bumbu untuk makan siang dengan dibantu oleh pemuda desa. Proses memasak dilakukan di salah satu kediaman warga agar tidak saling mengganggu satu sama lain. Tampaknya, konsep emansipasi yang didengungkan R.A. Kartini terlihat nyata ketika prosesi penyembelihan kurban berlangsung.
Di wilayah lain, mungkin tampak anak kecil berlarian ke sana kemari di sekitar area penyembelihan. Hal tersebut lumrah terjadi. Namun, ada juga daerah yang sama sekali tidak terlihat anak kecil, bukan karena mereka takut dimarahi, melainkan karena mereka sudah diajarkan untuk tidak bermain atau mengganggu aktivitas orang tuanya ketika proses penyembelihan sedang berlangsung.
Mereka tetap antusias menyaksikan proses penggiringan hingga penyembelihan hewan kurban dari kejauhan, lalu bermain bersama di tempat lain. Setelah semua hewan kurban selesai disembelih, mereka kembali ke kediaman masing-masing atau bermain bersama rekan sebayanya, dan tidak tampak lagi di lokasi hingga semua proses penyembelihan usai.
Selesainya proses penyembelihan hewan kurban tidak bisa ditentukan secara pasti pada pukul 15.00 sore, karena sangat bergantung pada jumlah dan ukuran hewan kurban. Jika terdapat hewan berukuran jumbo, tentu membutuhkan waktu yang lebih lama. Resmi berakhirnya prosesi penyembelihan biasanya ditandai dengan sejumlah warga yang mulai membersihkan area, sementara sebagian lainnya membagikan daging kurban kepada seluruh warga dan mereka yang berhak.
Perlu diingat, di beberapa daerah lain, prosesi penyembelihan hewan kurban dilangsungkan pada hari kedua Hari Raya Iduladha. Hal tersebut lumrah terjadi karena masih masuk dalam hitungan hari tasyrik dan menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing warga di setiap daerah. Beda daerah, beda pula adat istiadat maupun budayanya. Kita harus saling memahami.
Kalau boleh jujur, saya akui untuk bisa menyantap satu piring gulai, tongseng, atau tengkleng harus melalui proses yang cukup panjang dan melelahkan. Tidak semudah mencampurkan nasi dengan daging di rumah makan. Wajar saja jika satu piringnya bisa dihargai lebih dari Rp20.000,00 meski tampilannya sederhana.
Hal yang membuat harganya mahal selain karena prosesnya, juga karena harga beli hewan tersebut. Seluruh proses penyembelihan dilakukan secara manual menggunakan tenaga manusia. Tak ayal, untuk memberikan mereka upah, ongkos penjualan harus dinaikkan supaya masing-masing pihak bisa saling menghidupi dan menjaga harmoni kekeluargaan antar-pemangku kepentingan (stakeholder).
Akan menjadi masalah jika salah satu rantai pasok terputus; pastinya rantai penghubung lain lama-lama ikut terputus. Jika pun bisa bertahan, ibarat pepatah, hidup segan mati tak mau. Sama halnya dengan prosesi penyembelihan hewan kurban yang digelar setiap tahun ini. Jika generasi tua tidak mulai mengajarkannya kepada generasi muda, tentu lambat laun tidak ada lagi tradisi penyembelihan kurban bersama.
Pertanyaannya sekarang, jika generasi tua sudah banyak yang berpulang, apakah penyembelihan kurban harus dilakukan oleh orang lain dari wilayah lain? Tentu hanya kita dan waktu yang mampu menjawabnya. Besar harapan saya agar acara tahunan proses penyembelihan kurban ini tetap digelar di kampung halaman, meski sudah berganti generasi, sebagai upaya untuk terus menjaga tradisi dan budaya kebersamaan. Amin.