Mungkin kisah para Afrikaner—yang kerap disebut pejuang Boer—jarang kita dengar atau baca. Padahal, eksistensi mereka bertaut sangat erat dengan sejarah penuh luka dalam perlawanan berdarah melawan Inggris di Afrika Selatan pada kurun 1899 hingga 1902. Siapa sangka, sebagian kecil dari mantan pejuang tersebut terdampar di tanah Lembang. Sebagai keturunan kolonial Belanda, mereka datang ke Nusantara membawa keahlian bertani, beternak, menembak, dan tentu saja, kelihaian bertempur.
Perang Boer II (1899–1902) sejatinya adalah perang kemerdekaan yang digerakkan oleh dua republik Boer, yakni Oranje Vrijstaat dan Zuid-Afrikaansche Republiek, demi mempertahankan wilayah dari ekspansi Inggris. Bangsa Boer dikenal sebagai pasukan komando berkuda yang gigih dan sangat menguasai medan pertempuran. Pada fase awal perang, mereka bahkan berhasil menahan dan memukul mundur tentara Inggris.
Namun, Inggris merespons dengan mengerahkan kekuatan militer masif: membumihanguskan wilayah dan mendirikan kamp konsentrasi pertama di dunia. Akibatnya, korban jiwa berjatuhan dalam jumlah besar, di mana mayoritas korban terdampak adalah perempuan dan anak-anak yang meregang nyawa akibat wabah penyakit dan kelaparan akut. Kalah jumlah personel dan persenjataan, para pejuang Boer akhirnya menyerah. Mereka menandatangani perjanjian damai pada tahun 1902 dan terpaksa menyerahkan kemerdekaannya kepada Inggris.
Meski begitu, ada beberapa kelompok pejuang Boer yang menolak tunduk pada pemerintahan Inggris. Mereka memilih diasingkan atau melarikan diri ke berbagai belahan dunia, salah satunya ke Lembang, Hindia Belanda. Berdasarkan catatan sejarah, para pelarian Boer ini tiba di Pelabuhan Tanjung Priok pada tahun 1903.
Di Lembang, mereka ditempatkan di wilayah barat oleh seorang perwira militer Belanda bernama J.H.V. Blommestein. Para pejuang ini kemudian memulai hidup baru sebagai peternak dan petani. Keterlibatan mereka dalam membangun sektor agrikultur meninggalkan jejak yang sangat kuat, hingga perlahan menjadikan Lembang sebagai ikon pertanian dan peternakan seperti yang kita kenal sekarang.
Para pejuang Boer mulai membudidayakan ragam sayuran Eropa di Hindia Belanda, salah satunya adalah kol atau kubis. Dibawa ke Nusantara sejak masa kolonial pada 1816, kol ternyata mampu beradaptasi sangat baik di dataran tinggi Bandung berkat campur tangan pejuang Boer. Mereka menanam sayuran ini di lereng-lereng bekas perkebunan kopi.
Awalnya, kol hanya ditanam secara terbatas untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga Eropa. Menariknya, jika dilacak lebih jauh, jejak budidaya kol ini rupanya turut tercatat dalam naskah klasik Serat Centhini yang terbit pada kisaran 1816. Naskah ini mendokumentasikan bagaimana berbagai sayuran asal Eropa mulai dikenal dan dikembangkan di tanah Jawa. Seiring berjalannya waktu, kol tidak lagi menjadi porsi eksklusif kaum penjajah, melainkan mampu berasimilasi secara masif ke dalam budaya kuliner lokal.
Berbeda cerita dengan kentang, yang memiliki riwayat lebih tua di Nusantara ketimbang kol. Umbi asal Pegunungan Andes ini masuk ke Nusantara pada akhir abad ke-18 berkat campur tangan bangsa Eropa yang menjadikannya sebagai makanan pokok. Di tangan para pejuang Boer, kentang dikembangkan secara besar-besaran di kawasan Cisarua (barat Lembang), sebelum akhirnya menyebar luas ke dataran tinggi lain di Pulau Jawa seperti Wonosobo dan Temanggung.
Tanaman lain yang dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda ke Nusantara adalah wortel. Sayuran yang pertama kali ditemukan di dataran tinggi Iran pada masa Kekaisaran Persia di abad ke-10 ini rupanya turut tumbuh subur di lahan-lahan perkebunan pejuang Boer di Lembang.
Jejak budidaya ini bahkan melahirkan sebuah kawasan di Lembang yang diberi nama “Monoko”. Wilayah ini pada awalnya dibuka oleh para pejuang Boer khusus untuk menanam kentang dalam skala raksasa. Tidak hanya pejuang Boer, keluarga Ursone dan keluarga L.A.C. De Kock juga tercatat ikut serta dalam proyek penanaman massal ini. Hingga hari ini, Monoko masih bertahan sebagai kawasan sentra pertanian yang sangat subur di Lembang.
Sayur-mayur yang ditanam oleh para pejuang Boer di barat Lembang tersebut pada mulanya ditujukan untuk menyajikan semangkuk soupe—sebuah hidangan asli Prancis yang kemudian diadaptasi oleh warga Eropa di Bandung. Sayur sup yang kita kenal hari ini pada dasarnya adalah hasil rekayasa kuliner warga Eropa di Nusantara: mereka meracik sayuran segar dan kuah kaldu khas Barat dengan rempah-rempah lokal asli Nusantara. Dari pertemuan dua budaya inilah lahir sayur sup yang umum tersaji di atas meja makan kita sehari-hari.
Secara historis, konsep sup secara umum memang telah eksis sejak zaman prasejarah. Kala itu, manusia purba mulai menggunakan wadah tahan air menyerupai mangkuk untuk merebus daging dan sayuran secara bersamaan demi mengekstraksi kaldunya.
Kini, apabila saya sedang duduk menghadap semangkuk sup hangat yang penuh dengan sayuran segar dan kuah berempah, ingatan saya seolah melanglang buana pada kisah panjang di baliknya. Terlintas dalam benak bahwa di dalam kehangatan kuah ini, tertoreh riwayat kelam sekaligus kegigihan para pejuang Boer yang menanam sayuran tersebut dengan perjuangan panjang. Bukankah rasa syukur itu sering kali meresap ketika kita mampu melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda? Bagi saya, ini adalah cara untuk bersyukur: melihat sejarah dunia dari dasar semangkuk sup hangat.
Malia Nur Alifa, berdomisili di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Periset sejarah Bandung dan Lembang sejak 2009, penulis buku sejarah Lembang, aktif menjadi penulis kolom untuk Bandung Bergerak dan Ayo Bandung, aktif sebagai pemandu sejarah sejak 2015, dan sedang mengelola penerbitan buku Anomali-a.