Dark Mode Light Mode

Merawat Ingatan Perempuan: Aroma Dapur Tempo Doeloe dari Rubrik “Istri Binangkit” Majalah Manglé

Ada sesuatu yang memikat ketika kita menelusuri kembali lembaran tua Majalah Manglé terbitan era 1960-an. Kertasnya mungkin telah menguning dimakan usia, tetapi di balik halaman-halamannya tersimpan narasi hidup masyarakat Sunda pada masa lampau. Salah satu kepingan sejarah itu dapat ditemukan dalam rubrik “Istri Binangkit”—sebuah ruang yang tidak hanya menyajikan resep masakan, tetapi juga merawat berbagai pengetahuan praktis seputar kehidupan rumah tangga.

Bagi pembaca kiwari, rubrik tersebut ibarat lorong waktu yang membuka pintu menuju dapur keluarga Sunda lebih dari setengah abad silam. Di sana tidak ada blender, microwave, air fryer, atau sederet gawai dapur modern seperti sekarang. Yang tersaji adalah bahan-bahan sederhana dari pekarangan rumah, peralatan seadanya, serta empiri memasak yang diwariskan lintas generasi.

Sebagai catatan, Manglé merupakan salah satu majalah berbahasa Sunda yang memiliki rekam jejak panjang dalam semesta pers dan kebudayaan Jawa Barat. Sejak terbit perdana pada 1957, media ini dikenal sangat lekat dengan denyut keseharian masyarakat Sunda.

Selain mewadahi karya sastra, cerita pendek, sajak, kebudayaan, dan diskursus sosial, Manglé juga memberi panggung bagi hal-hal yang sangat membumi bagi pembacanya. Keberadaan rubrik “Istri Binangkit” menjadi menarik karena ia membuktikan bahwa sebuah majalah pada masanya tak sekadar berfungsi sebagai oase hiburan dan informasi, melainkan juga hadir sebagai semacam “buku pintar” bagi keluarga.

Secara makna, istilah istri binangkit mengandung representasi tentang sosok perempuan yang terampil, mandiri, cerdas, cekatan, dan berdaya dalam mengurus berbagai keperluan rumah tangga. Oleh karena itu, rubrik ini sesungguhnya tidak semata-mata berbicara tentang urusan dapur, melainkan menjadi saksi kreativitas dan kecakapan perempuan dalam merespons realitas sehari-hari.

Salah satu daya pikat utama “Istri Binangkit” terletak pada resep masakan dan kue yang dituturkan dengan bahasa bersahaja—terasa seakrab obrolan di meja dapur.

Dalam Majalah Manglé edisi Agustus 1962 (terbitan 64 tahun yang lalu), terdapat resep “Manisan Djahe” yang memanfaatkan jahe dan gula. Ada pula “Seueur Kutu” yang menggunakan daun nangka, “Tjangkang Djengkol” yang mengulas cara mengolah kulit jengkol, serta “Bobodas Endog”, hidangan sederhana berbahan dasar putih telur.

Bahan-bahannya terasa begitu organik dan dekat dengan ekosistem masyarakat tempo doeloe. Tidak banyak terminologi asing, tidak membutuhkan komoditas impor, apalagi peralatan yang canggih. Takarannya pun ditulis secara intuitif, misalnya “2 ons”—sangat berbeda dengan resep masa kini yang cenderung menuntut presisi ukuran gram. Di titik inilah karakter dapur masa lalu terasa begitu hidup: sebuah laku memasak yang lebih banyak bertumpu pada pengalaman, perkiraan, dan kebiasaan.

Menariknya, “Istri Binangkit” ternyata tak sekadar berhenti di meja makan. Terdapat pula tulisan berisi petunjuk praktis rumah tangga, seperti “Ngagentos Tali Sendal” yang memandu pembaca cara mengganti tali sandal jepit. Hal-hal marginal semacam itu memperlihatkan bagaimana sebuah rubrik majalah dapat menjadi sumber pengetahuan taktis, mulai dari urusan dapur, halaman rumah, hingga resolusi atas persoalan sederhana yang dihadapi keluarga sehari-hari.

Lebih jauh, membaca resep-resep tersebut sekaligus membawa kita menyelami lanskap bahasa Sunda masa lalu. Penggunaan ejaan lama seperti djahe, tjangkang, djengkol, tjai, atau tjampuran kini menjadi penanda atau artefak zamannya. Bagi pembaca sekarang, bentuk tulisan itu mungkin tampak unik, namun justru menjadi bagian integral yang menarik dari perjalanan sejarah bahasa dan budaya tulis masyarakat Sunda.

Lembaran-lembaran tua itu seolah tidak hanya menyimpan resep, tetapi juga merekam transformasi ejaan, istilah, kebiasaan, dan cara orang Sunda berkomunikasi pada zamannya.

Membaca kembali kolom “Istri Binangkit” hari ini serasa mengintip ke dapur sebuah keluarga Sunda pada lebih dari setengah abad silam. Dapurnya sederhana, bahannya tidak banyak, dan cara memasaknya pun tidak rumit. Namun, di balik kesederhanaan itu bersemayam pengetahuan yang sangat berharga: tentang bagaimana memanfaatkan bahan yang ada, bagaimana mengolah ketersediaan pangan, dan bagaimana menjalankan manajemen rumah tangga secara praktis.

Itulah sebabnya rubrik “Istri Binangkit” layak dilihat bukan sekadar sebagai katalog resep masakan tempo doeloe. Ia adalah potret kecil kemandirian perempuan Sunda, sekaligus rekaman pengetahuan subsisten yang pernah hidup dan mengakar di tengah masyarakat.

Dari halaman Manglé yang kini mulai menguning, kita menemukan sesuatu yang jauh lebih esensial dari sekadar resep. Ada cerita tentang sebuah generasi. Ada jejak cara hidup. Ada kearifan lokal dalam memanfaatkan apa yang tersedia.

Dan tentu saja, ada aroma dapur tempo doeloe yang seakan masih mengepul dari balik lembaran majalah yang telah berusia lebih dari setengah abad itu. Resepnya mungkin sederhana, tetapi cerita di baliknya sungguh kaya.

Kin Sanubary

Kin Sanubary adalah kolektor media cetak lawas dan penulis yang menaruh perhatian pada sejarah pers serta nostalgia masa lalu. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 kategori Pangajen Rumawat Kalawarta. Aktif menulis di sejumlah portal berita, antara lain AyoBandung.id, BandungBergerak.id, BandungPos.id, KejakimpolNews.com, TintaHijau.com, dan InHarmonia.id, serta beberapa media cetak.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Riwayat Pengasingan Boer di Dasar Semangkuk Sup

Next Post

Bandung Lautan Aci: Menelusuri Akar Sejarah dan Sosial di Balik Jajanan Aci Khas Sunda