Indonesia kaya akan ragam kuliner tradisional yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyimpan cerita mendalam di balik pembuatannya. Salah satu warisan kuliner yang begitu ikonik dan melegenda adalah burayot, sebuah kue tradisional dengan cita rasa manis dan legit yang berasal dari Kabupaten Garut, Jawa Barat. Di balik bentuknya yang unik dan teksturnya yang kenyal, burayot menyimpan sejarah panjang, filosofi penamaan yang menarik, hingga potensinya untuk bersaing di era modern.
Asal-Usul dan Waktu Kemunculan: Lahir dari Tradisi dan Ketidaksengajaan
Berdasarkan catatan sejarah dan cerita rakyat yang berkembang secara turun-temurun di masyarakat Sunda, kue burayot awalnya berasal dari daerah Salam Nunggal, yang kini masuk ke dalam wilayah Kecamatan Leles, Kadungora, dan Leuwigoong di Kabupaten Garut. Mengenai kapan pertama kali kue ini dibuat, salah satu referensi ilmiah tertulis yang mengulas penganan ini secara mendalam dapat ditemukan dalam jurnal Media Pendidikan, Gizi, dan Kuliner (Vol. 8, No. 1, April 2019) melalui penelitian berjudul “Burayot Sebagai Kue Tradisional Garut” karya Rahmi Fitriani, Atat Siti Nurani, dan Ai Nurhayati dari Universitas Pendidikan Indonesia.
Menurut penelitian ilmiah dan cerita rakyat tersebut, burayot awalnya dibuat oleh Nyimas Pugerwangi, istri dari Prabu Kian Santang. Kudapan ini sengaja diciptakan untuk memperingati dan memeriahkan upacara khitanan massal yang diadakan di daerah Salam Nunggal pada masa lampau. Saat itu, dibuatlah makanan yang menyerupai bentuk anatomi laki-laki yang kemudian diberi nama burayot. Selanjutnya, masyarakat mulai membuat burayot secara rutin, khususnya pada acara-acara besar seperti sunatan atau hajatan yang disebut “Pasang Panggung” sebagai perlambang rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Namun, terdapat pula versi sejarah lisan lain yang menyebutkan faktor ketidaksengajaan kuliner. Konon, Bi Acih dan suaminya, Abah Onon, yang merupakan seorang perajin nira di Kampung Dangdeur, mencoba bereksperimen mencampurkan tepung beras dan gula merah. Ketika digoreng, adonannya melar. Saat diangkat menggunakan alat tusuk khusus, adonan tersebut justru tertarik ke atas sehingga menciptakan variasi penganan baru yang kini kita kenal sebagai burayot.
Mengapa Dinamakan “Burayot”?
Nama “burayot” tergolong sangat unik di telinga awam. Istilah ini murni diambil dari bahasa Sunda, yaitu ngaburayot atau ngagayot, yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti bergelantungan atau menggantung. Penamaan ini merujuk langsung pada proses akhir pembuatannya yang sangat spesifik.
Ketika adonan digoreng di dalam minyak panas menggunakan wajan cekung (gerengseng), kue ini tidak diangkat menggunakan serok biasa. Sang pembuat akan menggunakan sebatang bambu kecil atau sumpit kayu tipis yang runcing (cocolok) untuk menusuk bagian tengah adonan. Saat ditarik ke atas dari minyak panas, kulit adonan bagian luar akan tertarik ke atas oleh bambu, sementara bagian isi tepung dan gula merah cair yang berat akan melorot terakumulasi di bagian bawah. Proses ini membuat kue tampak mengkerut dan bergelantungan pascamatang. Dari bentuk visual yang ngaburayot inilah masyarakat kemudian sepakat menamainya kue burayot.
Tari Igel Burayot: Harmoni Kuliner dan Seni Tari Khas Garut
Kabupaten Garut tidak hanya tersohor karena bentang alamnya yang indah hingga dijuluki Switzerland van Java. Daerah di Jawa Barat ini juga menyimpan kekayaan kuliner tradisional yang unik, salah satunya adalah burayot. Menariknya, keunikan proses pembuatan kuliner ini kini tidak hanya bisa dinikmati di lidah, melainkan telah bertransformasi menjadi sebuah karya seni pertunjukan visual yang indah bernama Tari Igel Burayot.
Secara harfiah, kata igel atau ngigel dalam bahasa Sunda berarti menari. Tari Igel Burayot merupakan tari kreasi baru (kontemporer) yang murni lahir dari kekaguman terhadap kearifan lokal kuliner Garut. Tarian ini berhasil membuktikan bahwa inspirasi seni tidak selalu datang dari mitos besar atau kisah kerajaan purba, melainkan bisa lahir dari dapur masyarakat jelata yang penuh kehangatan. Lahirnya Tari Igel Burayot tidak terlepas dari tangan dingin seorang guru kesenian di SMA Negeri 2 Garut bernama Ajeng Ningrum Kurnia. Pada tahun 2018, tarian ini dirancang khusus sebagai materi unjuk bakat untuk mewakili sekolah dan daerah dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Lewat garapan koreografi yang apik dan penuh energi, tim penari dari SMAN 2 Garut sukses memukau dewan juri hingga berhasil menyabet gelar juara kedua tingkat nasional. Sejak momentum prestasi tersebut, Tari Igel Burayot mulai dikenal luas oleh masyarakat Garut dan diadopsi menjadi salah satu ikon tari penyambutan dan festival budaya.
Daya tarik utama dari Tari Igel Burayot terletak pada struktur gerakannya yang sangat naratif. Jika diperhatikan dengan saksama, setiap transisi gerak para penari merupakan visualisasi dari proses pembuatan kue burayot tradisional dari awal hingga matang. Koreografinya dibagi menjadi beberapa fase gerakan yang filosofis, diawali dengan fase menumbuk tepung. Penari memperagakan gerakan ritmis yang menggambarkan proses menumbuk beras secara tradisional menggunakan lesung untuk menghasilkan tepung beras yang halus. Selanjutnya adalah fase mengaduk adonan, di mana gerakan tangan yang meliuk-liuk lembut menyimbolkan proses pencampuran tepung dengan cairan gula aren pekat di atas wajan. Puncaknya adalah fase menggoreng dan mengangkat yang sangat ikonik. Penari akan memperagakan gerakan tangan yang lincah meniru proses mengangkat adonan dari minyak panas menggunakan bilah bambu kecil (cocolok). Saat diangkat, adonan ditarik sedemikian rupa sehingga bagian bawahnya menggelayut berat karena sisa gula aren, menciptakan siluet burayot yang estetis dalam bentuk gerakan tubuh.
Meskipun proses pembuatannya membutuhkan keahlian tangan yang tinggi, bahan baku untuk membuat kue burayot sebenarnya tergolong sangat sederhana dan natural karena hanya menggunakan tiga bahan utama. Bahan pertama adalah tepung beras. Beras putih berkualitas harus direndam terlebih dahulu sebelum ditumbuk atau digiling halus secara mendadak agar menghasilkan tekstur tepung yang segar. Bahan kedua adalah gula aren atau gula merah, yang berfungsi sebagai pemberi rasa manis alami sekaligus pewarna cokelat keemasan yang legit. Gula ini dicairkan terlebih dahulu menjadi sirup kental sebelum dicampur ke dalam adonan. Terakhir adalah minyak kelapa, yang digunakan untuk menggoreng adonan dalam jumlah banyak agar kue matang secara merata dengan tekstur renyah di luar, namun tetap lembut di dalam.
Tips dan Trik Menggoreng Burayot agar Sempurna dan Tidak Pecah
Menggoreng burayot membutuhkan keterampilan khusus yang memadukan insting waktu, kontrol suhu, dan ketepatan gerakan tangan. Sering kali, pembuat pemula mendapati adonan burayot mereka hancur, bocor, atau pecah saat ditarik dengan bilah bambu. Namun, terdapat beberapa rahasia dan trik dari para perajin burayot legendaris Garut agar hasilnya mulus dan ngaburayot sempurna. Kunci utama terletak pada penggunaan wajan cekung (gerengseng) dan menghindari wajan datar (frypan). Bentuk wajan harus cekung melingkar agar minyak berkumpul di tengah dan adonan bisa mengapung serta mengembang secara terpusat.
Selain itu, suhu minyak harus diatur secara stabil. Pembuat harus memastikan minyak sudah benar-benar panas sebelum adonan dimasukkan, kemudian segera mengecilkan api ke tingkat sedang-rendah. Minyak yang terlalu panas akan membuat kulit luar burayot cepat gosong dan mengeras sebelum bagian dalamnya matang, sehingga kulit akan langsung pecah saat ditusuk. Tingkat kematangan sisi bawah adonan juga perlu diperhatikan. Saat dimasukkan ke dalam minyak panas, biarkan bagian bawahnya membentuk kulit (crust) yang cukup kokoh terlebih dahulu selama beberapa detik dan jangan terburu-buru menusuknya saat masih lembek. Setelah itu, terapkan teknik tusuk dan putar ringan. Tusuk bagian tengah adonan dengan ujung bilah bambu yang runcing dan halus, lalu lakukan gerakan memutar ringan sebelum menariknya ke atas agar sisa minyak keluar dan kulit luar mengunci posisinya. Langkah terakhir adalah menarik adonan dengan gerakan konstan dan lembut tanpa menghentakkan bambu. Biarkan gaya gravitasi bekerja secara alami menarik bagian dalam ke bawah hingga membentuk kerutan khas yang menggelantung utuh.
Sebagai jajanan pasar, burayot sangat potensial untuk dimodifikasi agar dapat menarik minat generasi muda yang menyukai variasi visual dan cita rasa baru. Beberapa modifikasi kekinian yang dapat diterapkan antara lain melalui penambahan varian rasa adonan. Bubuk matcha, taro, cokelat, atau red velvet dapat dicampurkan ke dalam tepung beras untuk menghasilkan warna-warni yang estetik. Inovasi lainnya adalah penambahan topping premium, seperti taburan keju parut, wijen, kacang almon, atau siraman saus cokelat lumer di atas permukaan burayot setelah matang. Dari segi metode penyajian, burayot juga bisa dihidangkan hangat bersanding dengan satu skup es krim vanila layaknya sajian waffle atau croffle lokal, menjadikannya hidangan penutup (dessert) mewah di kafe-kafe modern.
Bagi wisatawan atau pencinta kuliner yang ingin mencicipi burayot, kudapan ini sekarang sangat mudah ditemukan di beberapa tempat. Di sentra burayot Leles dan Kadungora, Kabupaten Garut, terdapat puluhan kios dadakan di sepanjang jalan raya yang menggoreng kue ini langsung di depan pembeli. Pusat oleh-oleh besar di perkotaan Garut, seperti area Tarogong, juga kini menyediakan burayot siap saji maupun dalam kemasan. Seiring dengan tingginya minat masyarakat, burayot kini bahkan sudah banyak dijual di pasar tradisional maupun pusat takjil di Kota Bandung dengan harga yang terjangkau.
Mengenai daya simpannya, burayot memiliki ketahanan yang cukup baik untuk ukuran kue tradisional karena kandungan gula merahnya bertindak sebagai pengawet alami. Kue ini dapat bertahan selama satu sampai dua minggu jika disimpan dengan benar. Pada suhu ruang yang terbuka, kue ini umumnya tetap prima dan tidak berjamur hingga tujuh hari. Jika teksturnya mulai mengeras, burayot hanya perlu dihangatkan kembali menggunakan oven atau penggoreng udara (air fryer) selama beberapa menit agar kembali empuk dan lembut.
Lebih dari Sekadar Camilan
Burayot bukan sekadar adonan tepung beras dan gula aren yang digoreng. Ia adalah simbol kreativitas masyarakat Sunda yang mampu mengubah bahan baku sederhana menjadi sebuah karya kuliner bernilai seni tinggi. Dari proses pembuatannya yang unik, kita belajar bahwa keindahan bentuk dan kelezatan rasa membutuhkan kesabaran serta ketepatan waktu.
Menikmati sepotong burayot hangat di tengah sejuknya udara Priangan adalah cara terbaik untuk merayakan warisan masa lalu yang tetap hidup di masa kini. Di tengah gempuran kuliner modern dan tren makanan cepat saji, burayot membuktikan dirinya mampu bertahan melintasi zaman. Menjaga eksistensi burayot, baik lewat melestarikan resep aslinya maupun berinovasi dengan sentuhan kekinian, adalah tanggung jawab kita bersama agar identitas kuliner Nusantara ini tidak hanya menjadi cerita di lembaran buku sejarah, tetapi tetap manis menggantung di lidah generasi masa depan.
Lahir di Bandung pada 1976, Maya Maulyda adalah pegawai berlatar belakang Teknik Sipil yang meminati sejarah, kuliner, dan walking tour. Di sela kesibukannya, ia rutin mendokumentasikan perjalanannya ke dalam jurnal. Kini, Maya aktif menulis di media publik untuk membagikan kisah, estetika, dan nilai sejarah dari setiap sudut jalan yang ia jelajahi.