Dark Mode Light Mode

Haagsche Hopjes, Sebuah Cara Menyesap Kopi Penuh Filosofi

Apa itu Haagsche Hopjes? Apa hubungannya dengan jalur perdagangan kolonial dan pengalaman pengecap yang mengubah hasil bumi menjadi simbol pertentangan kelas?

Bayangkan sebuah kotak kecil dari timah. Ia berangkat dari Eropa, menyeberangi laut, berpindah dari kapal ke gudang, dari gudang ke kereta, lalu masuk ke dalam jaringan pengiriman yang menjangkau kota-kota hingga pelosok tanah koloni, sebutlah ia Hindia Belanda. Kotak timah itu tidak memuat surat penting, bukan dokumen rahasia pemerintahan, dan sama sekali tak menentukan hidup mati seseorang. Isinya hanya permen kopi berjenama: Haagsche Hopjes.

Permen keras berwarna cokelat itu mungkin tampak seperti kudapan biasa. Namun, ketika kita menelusuri perjalanannya ke Nusantara, sebutir hopjes ternyata menyimpan kisah yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan rasa. Di baliknya terdapat sejarah panjang mengenai jalur perdagangan, teknologi pengemasan, infrastruktur, pergeseran kelas sosial, dan tentu saja, kopi.

Asal-usul Jenama dan Resep Ketidaksengajaan

Titik temu sejarah permen ini bermula dari sistem Preangerstelsel yang berlangsung sejak 1720 hingga awal abad ke-20. Sementara itu, hopjes (Haagse Hopjes) sendiri diciptakan di Den Haag (The Hague), Belanda, sekitar tahun 1792–1794. Kata hopjes secara harfiah berarti “Hop kecil” (little Hops), sebuah nama yang disematkan sebagai bentuk penghormatan kepada Baron Hendrik Hop.

Lahirnya permen ini berawal dari sebuah ketidaksengajaan yang dipicu oleh instruksi medis. Pada tahun 1792, Baron Hendrik Hop dilarang meminum kopi oleh dokternya karena alasan kesehatan. Padahal, sang Baron adalah pencinta berat kopi yang terbiasa meminumnya dengan campuran gula dan krim tebal.

Suatu malam, ia meninggalkan cangkir kopinya di atas tungku penghangat. Keesokan paginya, kopi tersebut menguap dan mengeras menjadi zat karamel padat yang sangat lezat. Terinspirasi dari kejadian itu, Baron Hop meminta pembuat roti dan kudapan tetangganya, Theodorus van Haaren, untuk memformulasikan permen padat yang mampu mempertahankan rasa tersebut. Berkat inovasi ini, sang Baron tetap bisa menikmati cita rasa kopi tanpa harus meminumnya.

Daur Rantai Pasok dan Ironi Kolonial

Mari kita membayangkan perjalanan rantai pasok pangan sebagai sebuah daur sederhana: ditanam, dipanen, diolah, lalu dimakan. Namun, sejarah kolonial membuat perjalanan itu menjadi sangat rumit.

Bagi perkebunan kolonial, kopi bukan sekadar minuman, melainkan komoditas utama yang menghubungkan tanah jajahan dengan pasar Eropa. Ironisnya, komoditas yang dipetik dari sistem Preangerstelsel ini dikirim ke Eropa, diolah oleh industri kembang gula menjadi karamel keras, lalu diberi merek dan kemasan yang mewah. Produk jadi ini kemudian kembali ke tanah asalnya sebagai barang impor bernilai tinggi.

Sebuah hasil bumi kehilangan hubungan langsung dengan tempat ia berasal, lalu pulang dengan harga dan status sosial yang berbeda sehingga tidak semua orang—terutama mereka yang menanamnya—mampu menjangkaunya.

Jalur Perdagangan dan Eksklusivitas di Toko De Vries

Agar sebuah kotak hopjes dapat sampai ke tangan konsumen di Hindia Belanda, diperlukan jaringan perdagangan internasional yang masif. Kota-kota seperti Batavia, Semarang, Surabaya, dan Bandung berkembang pesat sebagai ruang konsumsi dengan infrastruktur yang saling terhubung.

Dalam lanskap perdagangan tersebut, pada tahun 1906, Andreas de Vries memperluas usahanya menjadi department store (toserba) pertama di Bandung yang khusus mendatangkan barang-barang impor mewah langsung dari Eropa. Permen hopjes, yang saat itu merupakan kudapan premium kelas atas di Belanda, didatangkan dalam stoples-stoples kaca untuk memenuhi selera para Preangerplanters (pengusaha perkebunan Priangan). Hopjes dijual berdampingan dengan cerutu, minuman keras, pakaian mode Paris, dan obat-obatan impor.

Permen kopi impor ini begitu membekas di lidah masyarakat urban Bandung hingga akhirnya memicu lahirnya industri gula-gula lokal. Sekitar tahun 1940-an, keluarga keturunan Tionghoa mulai memproduksi varian hopjes versi lokal. Catatan sejarah menyebutkan Pabrik Biskuit Olympia milik pasangan Oey Yan Tim dan Tan Keng Nio di Jalan Raya Barat, Bandung, yang memproduksi biskuit serta kembang gula hopjes terkenal pada masanya. Di luar Bandung, salah satu produsen hopjes legendaris yang tercatat silsilah keluarganya secara jelas adalah Oen Djioe Nio, ibu dari Widjajanti (pemilik merek Hopjes Mia Nada) di Semarang.

Ruang Imajinasi: Iklan dan Gaya Hidup

Di masa kolonial, makanan tidak hanya dijual melalui etalase toko, tetapi juga melalui imajinasi. Surat kabar berbahasa Belanda seperti De Locomotief di Semarang menjadi ruang periklanan yang membentuk kebiasaan konsumsi baru.

Iklan bekerja dengan cara yang sederhana tetapi kuat: ia tidak sekadar memberi tahu bahwa sebuah barang tersedia, tetapi juga mendikte bagaimana barang tersebut seharusnya dipandang. Jejak iklan kolonial memperlihatkan bahwa Haagsche Hopjes dipasarkan bersama bonbon dan produk konfeksioneri berkualitas lainnya. Iklan menjual cerita tentang eksklusivitas, membentuk persepsi bahwa Haagsche Hopjes bukan sekadar permen, melainkan bagian dari gaya hidup.

Ketika Nama Berpindah Bahasa

Perjumpaan budaya juga terekam melalui bahasa. Sebelum kata “permen” seakrab sekarang, masyarakat Nusantara menyebut penganan manis berbahan dasar gula sebagai “gula-gula” atau “kembang gula”. Dalam bahasa Belanda, penganan ini dikenal dengan istilah snoep, snoepgoed, atau suikergoed.

Menariknya, pelafalan hopjes di Nusantara perlahan beradaptasi menjadi hopyes. Begitu pula dengan kata “permen” yang sebetulnya berakar dari bahasa Belanda pepermunt (merujuk pada peppermint), sebelum akhirnya berkembang menjadi istilah umum untuk semua jenis gula-gula dalam bahasa Indonesia. Perubahan leksikal ini menjadi bukti sejarah perjumpaan antara bahasa Eropa dan lidah masyarakat lokal.

Teknologi Pengemasan dan Kelas Sosial

Ada alasan kuat mengapa hopjes sangat cocok untuk bepergian jauh: teksturnya keras dan dikemas dalam kotak timah. Teknologi pengemasan ini melindunginya dari kelembapan, memungkinkannya bertahan menempuh perjalanan lintas samudra dibanding makanan segar.

Namun, di balik kepraktisannya, hopjes membawa batas kelas yang tegas. Seseorang yang membeli hopjes tidak hanya membeli rasa manis-pahit kopi karamel, tetapi juga membeli prestise dari dunia Eropa yang diwakilinya. Sekotak permen di ruang tamu menjadi simbol sosial bahwa sang pemilik memiliki akses terhadap jaringan perdagangan global kelas atas.

Sejarah Haagsche Hopjes mengingatkan kita bahwa makanan tidak pernah benar-benar netral. Di balik sesuatu yang tampak biasa, terdapat jalinan panjang tentang perdagangan, migrasi, teknologi, peluh tenaga manusia, hingga ketimpangan. Rezim politik kolonial dan negara boleh saja berganti, tetapi rasa kopi-karamel itu tetap hidup, menjadi saksi bisu dari sejarah yang pernah dikandungnya.

Roro Ariyanti

Roro Ariyanti adalah pemandu wisata, pemilik tour operator, penulis, dan pendiri Penerbit Ngemong Mripat. Berbekal pengalamannya, ia menaruh minat besar pada warisan budaya, sejarah lokal, dan gastronomi Nusantara. Lewat perjalanan wisata dan karya tulisnya, Roro aktif menggali serta mendokumentasikan cerita peradaban yang sering luput dari perhatian. Ia meyakini pengetahuan tersebut akan jauh lebih bermakna bila dibagikan dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Merayakan Kesetaraan di Meja Makan: Refleksi atas Kesederhanaan Para Pemimpin Nordik