Ada rasa lelah yang khas setelah menuntaskan perjalanan panjang. Tahun lalu, buku puisi saya, Telinga yang Tidak Dijual di Pasar Saham, membawa saya berkeliling ke hampir dua puluh titik kota. Perjalanan itu menyenangkan, melelahkan, ranum ilmu dan wawasan baru, sekaligus memenuhi kepala dengan berbagai macam warna manusia. Namun, baru hari ini, ketika saya duduk tenang di hadapan meja makan rumah; menyaksikan uap teh hangat yang mengepul perlahan, semua ingatan itu meluruh dan mengendap menjadi sekeranjang “oleh-oleh” batin yang patut direnungkan.
Dari sekian banyak cendera mata spiritual yang saya bawa pulang, ada satu peristiwa yang paling membekas di ingatan. Kejadiannya di sebuah ruang bedah buku yang padat di Jawa Barat. Saat moderator membuka sesi tanya jawab, seorang perempuan paruh baya mengacungkan tangan. Alih-alih bertanya tentang muatan buku, ia justru melayangkan interpelasi dengan nada suara yang meninggi, seolah sedang menyidang seorang terdakwa di ruang pengadilan.
“Kamu sudah melakukan apa saja sehingga bisa menyandang status penyair? Di spanduk luar itu terpampang jelas namamu sebagai penyair. Ingat, penyair itu profesi yang luar biasa agung! Beban sejarahnya berat. Kamu sudah ngapain aja selama ini? Maaf, saya ini sudah puluhan tahun melanglang buana dengan puisi. Bisa tolong sampaikan kepada saya apa pembuktianmu?”
Di depan, saya sempat tertegun. Bukan karena takut, melainkan karena takjub melihat bagaimana sebuah label kebahasaan bisa ditanggung dengan begitu khidmat sekaligus tegang. Saya menarik napas, tersenyum, lalu menjawab dengan seringan mungkin, “Wah.. Maaf Bu, Saya tidak terlalu peduli orang mau melabeli saya dengan sebutan apa pun. Toh, spanduk ini bukan saya yang buat. Jangankan ditulis ‘penyair’, andai di bawah nama Annisa Resmana itu dicantumkan jabatan sebagai ‘Cilok’ pun, saya sama sekali tidak keberatan.”

Ruang pertemuan sempat riuh, ditambah tawa kecil. Namun, bagi saya, itu bukan banyolan defensif untuk menyelamatkan muka di atas panggung. Di balik tanya-jawab itu, ada kegetiran yang mendalam mengenai bagaimana kita acapkali terjebak dalam berhala-berhala eksistensial bernama profesi.
Sungguh menggelikan melihat bagaimana sebagian orang, terutama mereka yang merasa telah menyepuh usianya di satu bidang, mulai berbicara seolah-olah pekerjaan mereka adalah urat nadi peradaban. Kita sering mendengar kalimat-kalimat adiluhung seperti, “Penyair adalah penyambung lidah zaman, kerja kami mengguncang kesadaran manusia!” Retorika itu terdengar begitu berdentum dan gagah, sampai akhirnya kita tersadar bahwa kesadaran manusia modern bisa terguncang jauh lebih hebat hanya karena perkara harga beras atau minyak goreng yang mendadak melambung tinggi.
Dunia ini tidak sedang kekurangan orang pintar atau profesi yang menuntut dikultuskan. Kita hidup dalam sebuah ekosistem yang bekerja karena asas saling sembada, bukan karena ada satu profesi yang berhasil mengklaim langit untuk dirinya sendiri. Seorang penyair tidak akan pernah melahirkan sebait pun bait sunyi tanpa lembaran kertas yang dipotong oleh buruh pabrik. Buruh pabrik tidak bisa mengoperasikan mesin tanpa pasokan logistik dari sopir truk. Sopir truk tidak akan bisa melaju tanpa minyak yang disuling oleh buruh tambang. Dan seluruh rantai itu akan berujung sia-sia jika tidak ada pembaca yang mau meluangkan waktu untuk membuka halaman buku.
Jika para pembuat kata merasa berhak mengklaim diri sebagai “pengubah dunia”, maka petugas kebersihan di jalanan kota patut dinobatkan sebagai pahlawan penyelamat peradaban. Tanpa ketekunan sunyi mereka setiap subuh, dunia kita secara harfiah akan tenggelam dalam kebusukan sisa-sisa metabolisme manusia. Sungguh sebuah ironi humaniora yang pekat: mereka yang paling vokal mengkhotbahkan “kesadaran” di atas podium justru kerap kehilangan kesadaran sosial paling elementer. Lupa bahwa setiap manusia memiliki porsi perannya masing-masing, dan tidak pernah ada hierarki nilai di antara pekerjaan-pekerjaan yang dijalankan dengan ketulusan yang paripurna. Menjadi penyair, guru, petani, buruh, atau ibu rumah tangga bukanlah kompetisi tentang siapa yang posisinya paling imperatif, melainkan tentang siapa yang masih menyisakan ruang bagi empati di dalam dadanya. Jika sebuah profesi membutuhkan panggung yang megah dan pengakuan yang riuh hanya untuk membuktikan kemuliaannya, jangan-jangan yang sedang diburu bukanlah makna, melainkan sekadar validasi ego yang haus tepuk tangan.
Saat merenungkan hal ini di meja makan, pikiran saya terbang jauh melintasi batas geografis, menuju tanah Gaza. Di sana, realitas dikuliti hingga ke cangkang paling purba. Anak-anak kecil di Gaza menuliskan nama mereka sendiri di telapak tangan menggunakan tinta spidol, bukan untuk urusan tanda tangan buku atau autograf kepenyairan, melainkan agar jenazah mereka bisa dikenali ketika reruntuhan bangunan meremukkan tubuh mereka. Di bawah langit yang berselimut mesiu itu, tidak ada satu orang pun yang peduli apakah Anda seorang penyair orisinal, profesor, insinyur, pedagang, seniman kontemporer, atau dokter spesialis dengan reputasi mentereng. Di sana, predikat-predikat sosial itu menguap begitu saja. Yang esensial hanya satu: siapa yang masih bernapas hari ini, dan siapa yang masih bisa mengulurkan tangan untuk menolong sesamanya. Manusia tidak lagi ditakar dari kartu nama, melainkan dari ketahanan hati dan keteguhan iman.
Maka, sungguh memalukan jika kita yang hidup di atas tanah yang damai, tenteram, dan serba berkecukupan ini, masih saja sibuk bertengkar di ruang-ruang diskusi, berebut remah-remah gelar sebagai yang “paling berpengaruh” atau “paling teoretis”. Barangkali, kita memang belum benar-benar paham apa artinya hidup bersama sebagai manusia. Dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena ada satu kelompok yang merasa paling penting. Kehidupan ini terus berjalan justru karena adanya orang-orang yang bekerja dalam senyap, jauh dari sorot lampu kamera: mereka yang mencangkul tanah, yang mengantar paket di tengah hujan, yang menyapu trotoar, yang merawat orang sakit, dan mereka yang menulis bukan untuk dipuja bagai nabi, melainkan untuk sekadar berbagi rasa kemanusiaan. Tanpa kehadiran mereka yang bergerak di sunyi, kata-kata seindah apa pun di dalam buku puisi hanya akan berakhir menjadi deretan aksara mati yang kehilangan konteks sosialnya.
Pada akhirnya, saya justru ingin berterima kasih sedalam-dalamnya kepada perempuan yang melayangkan pertanyaan tersebut di salah satu titik tur tahun lalu itu. Lewat sinismenya, saya disadarkan kembali untuk senantiasa mawas diri. Pertanyaan itu bertindak seperti cermin retak yang memaksa melihat ke dalam: bahwa seluruh energi, ilmu pengetahuan, kemampuan verbal, dan kesehatan fisik yang saya miliki hari ini hanyalah barang pinjaman. Tuhan bisa mengambilnya kembali dalam satu jentikan jari.
Jika kita benar-benar memahami bahwa hidup ini tak lebih dari sewa jangka pendek, untuk apa kita meninggikan hati? Dunia ini terlalu luas untuk diisi oleh ego-ego yang haus penghormatan. Semoga kita semua, terlebih saya, dijauhkan dari rasa memuja diri sendiri sebagai juru selamat peradaban, semoga kita semua sempat menunduk sejenak ke bawah; menyadari bahwa bahkan sebutir debu yang melekat di alas sepatunya pun, ikut ambil bagian dalam menopang setiap jengkal langkah kaki manusia.
Malam makin larut, teh di cangkir saya sudah mendingin. Saya tersenyum sendiri mengingat kejadian itu. Menjadi penyair atau menjadi sebutir cilok, pada akhirnya tidak ada bedanya di hadapan tanah yang kelak akan memeluk kita semua.
Bandung, Desember 2025.