Jauh sebelum pabrik makanan modern berdiri, sejarah makanan olahan sesungguhnya telah dimulai sejak zaman purba. Pada masa itu, manusia mengolah makanan bukan untuk mencari sensasi rasa baru, melainkan demi bertahan hidup. Tujuannya sederhana: mengawetkan makanan agar umur simpannya lebih panjang dan tidak mudah membusuk.
Di masa lampau, manusia purba memanfaatkan alam untuk mengawetkan hasil buruan dan panen. Bahan makanan diolah sedemikian rupa agar mereka tetap memiliki logistik saat musim paceklik tiba, atau untuk bertahan melewati musim dingin yang panjang bagi mereka yang menetap di kawasan subtropis.
Penemuan api menjadi salah satu tonggak penting dalam metode pengawetan ini. Sejak ribuan tahun lalu, manusia mulai menggunakan api untuk memasak daging agar lebih mudah dicerna sekaligus terhindar dari paparan bakteri.
Selain pengasapan dengan api, metode penjemuran di bawah sinar matahari langsung atau sekadar diangin-anginkan juga lazim dilakukan. Praktik ini bertujuan untuk menghilangkan kadar air pada daging, buah, dan biji-bijian. Prinsipnya tetap sama: memastikan bahan makanan awet disimpan untuk melewati masa-masa sulit.
Bergeser ke teknik lain, penggaraman dan pengasapan juga terbukti sangat efektif. Bangsa Mesir Kuno dan Mesopotamia, misalnya, telah lama menggunakan garam untuk mengawetkan daging dan ikan—sebuah teknik kuno yang hari ini kita nikmati dalam bentuk ikan asin. Sementara itu, pengasapan dilakukan untuk menciptakan lapisan pelindung alami pada bahan makanan, terutama olahan daging.
Ada pula teknik pengawetan yang tak kalah revolusioner: fermentasi. Sejak kurang lebih 7.000 tahun Sebelum Masehi (SM), manusia telah memanfaatkan teknik ini untuk membuat roti, anggur, keju, dan yoghurt. Secara sederhana, fermentasi adalah proses penguraian senyawa organik oleh mikroorganisme—seperti ragi, bakteri, dan jamur—tanpa bantuan oksigen.
Jenis-jenis fermentasi ini terbagi menjadi beberapa kategori. Pertama, fermentasi asam laktat yang mengubah gula menjadi asam laktat, seperti pada pembuatan keju dan yoghurt. Kedua, fermentasi alkohol yang merombak gula menjadi alkohol dan karbondioksida, contohnya pada tapai dan anggur. Ketiga, fermentasi asam asetat yang menghasilkan cuka dari alkohol lewat bantuan bakteri.
Selain memperpanjang masa simpan secara alami, fermentasi membawa banyak manfaat. Proses ini mampu meningkatkan nilai gizi karena memecah nutrisi agar lebih mudah diserap oleh tubuh, sekaligus menjaga sistem pencernaan berkat bakteri baik (probiotik) yang menyehatkan usus.
Ratusan abad kemudian, Revolusi Industri memicu lonjakan populasi di perkotaan dan tingginya kebutuhan logistik militer. Kondisi ini memaksa manusia melangkah lebih maju dalam pengolahan pangan, yang kemudian melahirkan teknologi pengalengan dan pasteurisasi.
Pada 1809, seorang ilmuwan Prancis bernama Nicolas Appert memelopori penemuan makanan kaleng. Ia menemukan bahwa makanan yang dipanaskan dalam wadah kedap udara (awalnya botol kaca, lalu beralih ke kaleng) tidak akan membusuk. Salah satu contoh sukses penemuan ini adalah terjaminnya suplai makanan kaleng bagi pasukan militer Napoleon Bonaparte.
Setelahnya, Louis Pasteur menyempurnakan teknologi pangan melalui penemuan pasteurisasi. Ia membuktikan bahwa pemanasan singkat pada suhu tertentu mampu membunuh mikroba tanpa merusak rasa asli makanan. Praktik ini pertama kali diterapkan secara luas pada susu murni dan anggur.
Memasuki abad ke-20, lanskap makanan global kembali berubah drastis seiring gaya hidup yang menuntut serba cepat dan semakin banyaknya perempuan yang memasuki dunia kerja. Dari sinilah kita mulai akrab dengan makanan beku (frozen food) dan makanan cepat saji (fast food).
Inovasi modern ini mencakup metode pembekuan cepat yang ditemukan oleh Clarence Birdseye pada 1920-an. Tujuannya adalah agar kristal es yang terbentuk tidak merusak struktur asli makanan. Di saat bersamaan, teknologi pengeringan semprot (spray drying) dan pengeringan beku (freeze drying)—yang mulanya diciptakan khusus untuk ransum tentara—juga berkembang pesat melahirkan produk makanan instan. Untuk mendukung distribusi massal dengan biaya murah, penggunaan bahan kimia tambahan seperti pengawet buatan, pewarna, dan penguat rasa pun mulai diproduksi masif.
Bicara soal ragam makanan olahan, tahukah Anda bahwa beberapa hidangan yang kita konsumsi hari ini menyimpan jejak sejarah yang luar biasa panjang?
Roti, misalnya, adalah salah satu makanan olahan tertua di dunia. Residu tepung purba yang ditemukan di permukaan batu penumbuk era Paleolitikum di Eropa membuktikan bahwa manusia telah membuat roti sejak 30.000 tahun yang lalu.
Lain halnya di Mesir. Pada rentang tahun 2013 hingga 2014, sekelompok arkeolog yang menggali makam Firaun Ptahmes menemukan hal tak terduga: setoples keju yang ikut terkubur di dalam area pemakaman tersebut.
Sementara itu di Tiongkok, kaldu dan sup tulang telah dikonsumsi sejak lama karena dipercaya baik untuk memulihkan pencernaan dan ginjal. Pada 2010, penggalian sebuah makam di dekat wilayah Xi’an berhasil mengungkap keberadaan periuk yang masih berisi sup tulang dari 2.400 tahun silam. Tiongkok juga mencatatkan mi sebagai salah satu olahan tepung tertua, yang konon telah dibuat sejak 4.000 tahun lalu dengan bukti tertulis yang tercatat pada masa Dinasti Han (25–220 M).
Di Eropa, cokelat memiliki rekam jejak yang tak kalah unik. Pada penobatan Raja Edward VII di tahun 1902, kaleng-kaleng berisi cokelat didistribusikan kepada publik—termasuk yang dibuat di St. Andrews—sebagai suvenir perayaan, melengkapi barang peringatan lain seperti cangkir, piring, dan koin.
Begitu kayanya kisah di balik makanan olahan, hingga terkadang di tengah kepraktisan masa kini kita lupa pada perjalanan panjang masa lalu yang membentuknya. Padahal, di setiap hidangan yang kita santap tersimpan rekam jejak historis yang menarik untuk digali. Pada akhirnya, makan bukan sekadar rutinitas mengganjal perut, melainkan sebuah jembatan untuk merawat rasa ingin tahu kita terhadap sejarah aktivitas umat manusia.
Malia Nur Alifa, berdomisili di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Periset sejarah Bandung dan Lembang sejak 2009, penulis buku sejarah Lembang, aktif menjadi penulis kolom untuk Bandung Bergerak dan Ayo Bandung, aktif sebagai pemandu sejarah sejak 2015, dan sedang mengelola penerbitan buku Anomali-a.