Dark Mode Light Mode
Follow Us
Follow Us

Kupat, Keupeul, dan Tantang Angin: Simbol Resiliensi Pangan Sunda

Relasi Kuali

“Jika perkara makan selesai di urusan kenyang, maka Kupat, Keupeul, dan Tantang Angin tak akan membawa pesan moral bagi masyarakat Kuningan.”

Saat menghadiri Milangkala Ke-6 Saung Kopi Hawwu (23–27 September 2026), perhatian saya tertuju pada hidangan yang tersaji di atas meja prasmanan. Tahun ini, “Nu Ngora Nu Ngabuana” dipilih sebagai tema perayaan sekaligus jangkar bagi seluruh rangkaian acara—mulai dari ritual, pagelaran budaya, hingga pangan lokal yang disajikan.

Seperti perayaan pada tahun-tahun sebelumnya, Saung Kopi Hawwu yang berlokasi di Jalan Adipati, Cirendang, Kabupaten Kuningan, konsisten menghadirkan sentuhan tradisional Sunda tempo dulu. Dadan Aminudin Latif, pemilik rumah makan Saung Kopi Hawwu, paham betul bahwa kosmologi Sunda semestinya tak berhenti pada estetika tampilan luarnya saja, tetapi juga filosofi yang tersimpan di balik keindahan bentuk.

Dari keseluruhan unsur yang membentuk atmosfer perayaan tersebut, perhatian saya tertambat pada tiga jenis kudapan berbahan beras dengan rupa yang ikonik: kupat, keupeul, dan tantang angin. Karakter ketiganya tampak menonjol secara geometri dan pengemasan. Kupat berbentuk persegi empat, sedangkan keupeul (sebagian orang menyebutnya leupeut) berbentuk memanjang. Keduanya berselimut anyaman janur kuning atau daun kawung yang masih menyisakan wangi khas kukusan hangat. Sementara itu, tantang angin hadir dalam bentuk segitiga, berbalut daun bambu tamiang yang licin dan berserat halus saat disentuh.

Di balik kesederhanaan bahannya, ketiga kudapan ini menyimpan simbolisme dan petunjuk hidup yang tetap relevan meski zaman terus berganti. Gunadi, warga Desa Cigugur yang sejak kecil akrab dengan ketiga kudapan ini, menjelaskan bahwa masyarakat Kuningan secara kolektif mewarisi nilai-nilai luhur melalui tradisi kuliner.

Pangan yang dikonsumsi, selain menunjukkan kekayaan alam, turut membentuk karakter masyarakat Kuningan. “Kupat-keupeul-tantang angin ini pengingat supaya kita panceg, teu galideur ku angin,” terang Gunadi. “Ajaran leluhur hendaknya menjadi pedoman hidup agar kita tidak mudah terpengaruh kabar yang menyesatkan dan tidak tercerabut dari akar budaya.”

Dari percakapan tersebut, ada satu hal yang menancap dalam ingatan: betapa pun luasnya tafsir terhadap suatu warisan budaya, makna sesungguhnya dapat ditelusuri melalui cara berpikir dan perilaku masyarakatnya. Begini saya meramunya: kupat dan keupeul dimaknai sebagai jati diri atau prinsip yang dipegang teguh, sedangkan tantang angin merupakan simbol resiliensi atau daya tahan kultural di tengah derasnya arus zaman yang menuntut percepatan dan berisiko mengasingkan manusia dari cara hidup selaras alam.

Gunadi juga menambahkan bahwa menyantap ketiga kudapan ini bukan sekadar mengunyah sajian beras dengan aroma khas, melainkan sebuah proses internalisasi kearifan agraris ke dalam peristiwa makan. Ketika kudapan itu menguarkan rasa di rongga mulut, ada kesadaran kultural yang dihidupkan kembali: bahwa kenyang hanyalah bonus dari perjalanan panjang alam menumbuhkan bahan pangan hingga menjadi sajian yang dapat dinikmati. Dalam tradisi Sunda, makanan tak pernah dipandang sebagai objek semata, melainkan entitas yang bernyawa.

Kedalaman makna kupat, keupeul, dan tantang angin dapat ditelusuri dari muasal bahan utamanya: beras dari pare huma pilihan yang diperlakukan bak tamu kehormatan sejak diletakkan di dalam goah Saung Kopi Hawwu. Penanaman pare huma atau padi ladang dilakukan dengan sistem pengetahuan pertanian tradisional tanpa pengairan buatan, sepenuhnya mengandalkan curah hujan, pengendalian hama tanpa pestisida, serta aturan adat kuno yang menjadi pakemnya—mulai dari nyacar, ngaseuk, ngored, panen, hingga pascapanen yang di antaranya meliputi tahapan ngaleuitkeun dan nutu pare.

Proses pascapanen masyarakat agraris Sunda lebih dekat dengan kesabaran ketimbang kepraktisan. Proses panjang yang tak tergesa-gesa dan penuh ketelitian itu memberi ruang bagi niat, rasa syukur, dan kesadaran penuh (present-moment awareness) dari mereka yang mengolah bahan pangan menjadi makanan. Seperti ketika bulir padi dipetik, dijemur, disimpan, hingga ditumbuk dengan rasa hormat—keikhlasan dalam laku panjang itu menjelma saripati makanan yang tak hanya menuntaskan rasa lapar, tetapi juga menjadi energi kehidupan bagi yang menyantapnya. Konsep inilah yang dalam tradisi agraris Sunda dihormati sebagai Sri Pohaci.

Saya mendapati bahwa bagi masyarakat yang memegang teguh adat istiadat, menyantap makanan tak ubahnya sebuah laku ibadat: ada khidmat yang melampaui kenikmatan rasa di ujung lidah. Pandangan ini secara imajiner merajut filosofi waktu, tradisi agraris, dan dimensi spiritual ke dalam sepiring makanan.

Dalam rangkaian Milangkala Saung Kopi Hawwu, terdapat satu tahapan yang menjadi urat nadi keberlangsungan tempat ini hingga menginjak usianya yang keenam: Mirun Hawwu Ngasakeun Sangu. Indra Wiguna, Ketua Yayasan Hibar Budaya Nusantara yang mengawal kelancaran acara, menegaskan bahwa ritual ini bukan sekadar laku simbolis memasak nasi. Lebih dari itu, Mirun Hawwu Ngasakeun Sangu melambangkan perjalanan Saung Kopi Hawwu sebagai ruang untuk menyalakan semangat perawatan dan pelestarian budaya. Sementara itu, nasi menjadi isyarat keberkahan yang ditanak untuk dibagikan kepada siapa saja yang hadir; sebuah penanda bagi jejak yang telah dilalui sekaligus pengingat kepada siapa semangat itu ditujukan.

Pada tahap awal, sebelum mempraktikkan penyalaan api tungku dan menanak nasi, Mirun Hawwu Ngasakeun Sangu tak lepas dari upaya mempertahankan padi secara utuh bersama tangkainya untuk disimpan di dalam tempat penyimpanan tradisional Sunda: goah. Jika leuit berfungsi sebagai lumbung luar di area terbuka untuk menyimpan cadangan pangan jangka panjang milik komunitas atau keluarga, goah merupakan ruang penyimpanan privat berukuran lebih kecil di bagian dalam rumah panggung untuk memenuhi kebutuhan harian.

Keberadaan goah di Saung Kopi Hawwu menjadi pangkal dari keseluruhan proses memasak nasi, termasuk pembuatan kupat, keupeul, dan tantang angin. Setiap genggam beras yang diambil dari goah membawa jalurnya sendiri sebelum menjadi sebuah hidangan. Bulir-bulir padi itu melewati tradisi tutunggulan: menumbuk padi di lisung kayu menggunakan halu (alu) yang dimulai pada wanci janari leutik (sekitar pukul dua dini hari). Posisi lisung diletakkan membujur dari barat ke timur, mengikuti garis edar matahari yang menjadi fondasi penanggalan pranata mangsa dalam tradisi agraris Sunda.

Dengan posisi lisung yang membujur barat-timur, para perempuan penumbuk padi berdiri menghadap ke utara dan ke selatan. Orientasi ini bukan tanpa alasan. Posisi berdiri saling menyamping membuat pandangan mereka mengarah langsung ke area permukiman dan lanskap kampung yang terbuka. Hal ini menciptakan ruang pengawasan sosial, memfasilitasi komunikasi antarwarga di tengah kesibukan bertani, serta menjaga efisiensi alur gerak halu agar tidak saling bertabrakan di ruang yang terbatas.

Seni dari tutunggulan terletak pada dentuman halu yang menghantam dasar lisung kayu secara bergantian: pukulan pertama disusul ketukan-ketukan berikutnya yang saling bersahutan hingga membentuk jalinan irama harmonis. Ritme ini bukan sekadar bunyi alat kerja mekanis, melainkan sandi budaya. Sebuah penanda bagi warga sekitar bahwa sebuah perayaan, hajat lembur, atau momen penting seperti Milangkala akan segera berlangsung.

Setelah irama tutunggulan terbentuk, para pelakunya yang terdiri dari sejumlah perempuan menempatkan padi ke dalam lisung untuk ditumbuk (nutu pare) secara bersama-sama. Prosesi ini melibatkan perlengkapan agraris Sunda seperti lisung, halu, pare, boboko, tampir, nyiru, parukuyan, hingga sasarandu (sesajen) sebagai wujud permohonan keselamatan. Dentang irama yang bersahut-sahutan itu menjadi media penanda waktu sekaligus laku penghormatan terhadap perjalanan padi.

Rangkaian laku spiritual berkaitan dengan padi dilakukan oleh Agus Setiawan, Patih Goah yang berjibaku dengan tata kelola bahan dan urusan gastronomi di goah serta dapur selama Milangkala berlangsung. Ia mengasuh pare huma sejak pertama kali didudukkan di dalam goah, melaksanakan tutunggulan, hingga menjelma sajian di atas tampah. “Sateuacan ditutu, parena teh dipapag heula ku nu gaduh patempatan. Pupuhu Saung Kopi Hawwu menyerahkan kepada Juru Goah atau Candoli sebagai simbol amanah, nembe diproses menjadi berbagai hidangan,” tutur Agus. Ritual penyambutan padi oleh pemilik tempat yang dilanjutkan dengan penyerahan amanah kepada Candoli mempertegas bahwa padi tak pernah diperlakukan sebagai benda mati, melainkan tamu kehormatan yang diampu secara sakral.

Penghormatan itu berlanjut hingga ke titik pengolahan terakhir di tangan Nalury, Juru Goah sekaligus sosok yang memegang peran penting dalam proses memasak. Baginya, mengolah kupat, keupeul, dan tantang angin tak bisa dilakukan sembarangan. Saung Kopi Hawwu tak memilih jalan pintas, melainkan tetap setia menggunakan hawu (tungku kayu bakar) alih-alih kompor gas modern. Selain menghasilkan aroma dan rasa yang jauh lebih kaya, hawu juga mampu memangkas durasi masak secara alami berkat distribusi panas tungku yang kuat. Pilihan ini diambil karena setiap detail pengolahan memiliki tujuannya sendiri; sebuah upaya menyelaraskan praktik memasak dan penjagaan terhadap nyala api tradisi.

Sedemikian khidmatnya proses memasak, hingga setiap bulir beras tak sekadar dikukus untuk memadatkan rasa, melainkan menjadi metode untuk mempertemukan konsistensi, gurihnya olahan beras, dan aroma daun yang membungkusnya. Keupeul mengeksplorasi kelezatan kacang merah di balik teksturnya yang lembut, sedangkan kupat dan tantang angin membiarkan kepulan uap air menyerap utuh wangi beras lokal hingga tanak sempurna. Dari ruang lumbung yang sakral hingga terhidang di atas tampah Milangkala, seluruh proses memasak ini merupakan serangkaian laku penghormatan dan pemuliaan terhadap Sri Pohaci yang mendistribusikan nutrisi alam pada tubuh manusia.

Di penghujung acara, sebuah debat kecil yang cukup menggelitik mendadak pecah di antara obrolan. Seorang teman dengan nada serius mempertanyakan posisi kupat, keupeul, dan tantang angin dalam struktur sajian modern: apakah ketiga kudapan ini tergolong appetizer pembangkit nafsu makan atau justru main course yang mengenyangkan? Kami terkekeh sejenak menikmati perdebatan. Namun, jika merunut pada panjangnya deretan ritual Mirun Hawwu Ngasakeun Sangu—mulai dari mengeluarkan padi dari goah, alunan tutunggulan di wanci janari leutik, hingga proses memasaknya—pengategorian ala kuliner Barat terasa tidak mewakili. Sebab bagi masyarakat Sunda, ketiga sajian itu tak pernah dirancang sekadar untuk menggugah selera atau menumpas lapar, melainkan hidangan utuh yang merangkum laku hidup, penghormatan terhadap alam, serta petuah leluhur yang senantiasa mengikat kita pada kesejatian diri di buana—alam tempat kita menjalani hidup dan merawat keberlanjutan tradisi.

Nadya Gadzali

Penulis, periset sosial-budaya, dan penggiat literasi asal Bandung. Perjalanannya menelusuri budaya Nusantara dimulai ketika tergabung sebagai salah satu host dalam tim Ekspedisi Papua TV7 (2006). Nadya kemudian aktif sebagai penulis naskah dan produser dokumenter-feature, seperti "Harta Karuhun Gunung Padang" dan "Gurat Batik Ciwaringin", sembari mengampu meja redaksi Etnis.id (2019–2024). Saat ini, perhatian risetnya berfokus di tema-tema seputar mitigasi bencana berbasis kearifan lokal, arsitektur vernakular, dan khazanah gastronomi lokal untuk proyek buku terbarunya, "Sawala Buana".

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Sejarah Makanan Olahan